Kamis, 19 April 2018

Lagi-lagi Tentang Cinta

BAB I
Ekspektasi Tinggi

Perkara cinta menjadi bahasan tiada matinya, sejak zaman dahulu sampai saat ini (heheheh...) masih enak dibahas, betul tidak?
Cinta, setiap orang punya makna dan definisi sendiri tentang ini. Penting gak sih cinta itu ?
Islam memiliki ruang tersendiri dalam pembahasan cinta, sebuah anugerah dari Allah SWT dan merupakan fitrah manusia, hal dasar yang memang diciptakan oleh Allah SWT di dalam diri setiap manusia.
Firman Allah SWT dalam Alquran yang artinya sebagai berikut :

"Dialah yang menciptakan kamu dari jiwa yang satu (Adam) dan darinya Dia menciptakan pasangannya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, (istrinya) mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian ketika dia merasa berat, keduanya (suami-istri) bermohon kepada Allah, Tuhan mereka (seraya berkata), "Jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami akan selalu bersyukur." (QS. Al A'raf: 189)

Di ayat lain :
"Dijadikan terasa indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." (QS. Ali 'Imran: 14)
Cinta itu memang fitrah (tabiat) manusia, letaknya di hati. Tidak dapat dijauhi, apalagi dihapus maka ketika berbicara cinta namun tidak memperhatikan tuntunan di dalam Islam maka yang ditemui adalah cinta buta, menyerang orang-orang yang hatinya kosong dari cinta kepada Allah SWT.
         Seorang ulama klasik memiliki kitab yang bagus tentang cinta dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Raudhatul Muhibbin dan edisi terjemahannya diberi judul "Taman Para Pecinta". Di dalam kitab tersebut, secara garis besar membagi cinta ke dalam 3 kelompok yaitu :
1. Al Mahabbah lillah wa fillah
2. Al Mahabbah al 'Ardhiyyah
3. Al Mahabbah al 'Isyqiyyah

Berikut penjelasannya :

1. Al Mahabbah lillah wa fillah
Yaitu cinta yang hanya berlandaskan cinta kepada Allah SWT saja, cinta jenis ini adalah cinta orang-orang beriman. Mereka akan mencintai apa saja yang Allah SWT cintai namun cinta kpd Allah SWT adalah yang tertinggi.
Di dalam Alquran, Allah SWT menggambarkan jenis cinta ini dalam surah Al Baqarah ayat 165 :
"Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. *Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah*. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)."

2. Al Mahabbah al 'Ardhiyyah
          Yaitu cinta yang dasarnya adalah syahwat keduniaan seperti harta, tahta, rupa, benda dan yg sejenis dengannya...
Cinta jenis ini sifatnya temporary, ada masa aktifnya

3. Al Mahabbah al 'Isyqiyyah
          Al 'Isqiyyah secara sederhana adalah jenis cinta yang melibatkan penyatuan ruh, hati dan pikiran.
Cinta jenis ini yang membuat seseorang menjadi setengah gila (atau memang benar-benar gila)
Cinta jenis ini yang harus diwaspadai... penyakit al 'Isyqiyyah ini hanya terjadi dengan dua sebab saja yaitu :

1). Karena mengganggap indah apa-apa yang dicintainya
2). Perasaan ingin memiliki apa yang dicintainya

Kalau hati sudah diisi penuh dengan cinta kepada Allah maka cinta kepada selainNya akan sulit masuk ke dalam hati, cinta kepada selain Allah akan berujung kekecewaan dan penyesalan.
Misalnya hati Nabi Yusuf tatkala diajak berzina oleh Zulaikha...
"Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih." (QS. Yusuf : 24)
Hati Nabi Yusuf sudah dipenuhi dengan cinta kepada Allah SWT maka rayuan cinta buta pun lewat.
Hati yang terisi oleh cinta kepada selain Allah, banyak terjadi di masyarakat, mengagungkan cinta kepada selain Allah, yang termasuk ke dalam Al Mahabbah al 'Isyqiyyah misalnya cinta kepada sesama manusia yang membuatnya jatuh dalam jeratan hawa nafsu dan menjauhkannya dari Allah SWT.
Dalam sebuah kasus, seorang wanita dan pria yang pada awalnya hanya berteman, jika di dalam hati keduanya atau salah seorang dari mereka tidak kuat rasa cinta kepada Allah SWT maka bukan tidak mungkin mereka akan melanggar aturan-aturan dalam Islam misalnya berpacaran. Pacaran menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yakni teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih; kekasih.
 Tidak sedikit dari orang yang berpacaran apabila telah menjalin ikatan rasa yang kuat menganggap hubungan mereka akan berujung pernikahan. Ekspektasi tinggi terhadap pasangan yang akan melahirkan sikap posesif bahkan cenderung over protective, mengorbankan segala hal mulai dari uang, waktu dan pikiran demi terciptanya suasana kondusif dalam hubungan pacaran ini, over confidence atau terlalu percaya diri dengan kelanggengan hubungan mereka dan lupa bahwa Allah SWT yang mengatur segala hal termasuk jodoh. Pasangan yang terjebak dalam cinta buta akan tertutupi hatinya oleh hal ini, keyakinan akan hubungan yang berakhir kebahagiaan di kursi pelaminan lebih mendominasi pikiran mereka yang didasari oleh kondisi hubungan yang secara kasat mata selalu rukun dan akur, jika pun ada perselisihan maka dapat segera teratasi.
Pacaran itu melanggar aturan agama Islam, dan dalam berpacaran yang sudah termasuk kategori akut akan meringankan pula langkah-langkah pelakunya untuk memuluskan impian mereka, menempuh berbagai cara meski harus melanggar aturan agama Islam yang lainnya, tidak peduli dengan dampak yang ditimbulkan, tidak peduli baik atau buruknya tindakan tersebut.
Beberapa contoh kelakuan orang yang sedang berpacaran dengan kategori akut, dan kadang menyebabkan orang lain merasa risih dengan hal ini :
1. Saling menyapa dengan istilah Papa-Mama, Papi-Mami atau Ayah-Bunda
2. Tanggal jadian dirayakan setiap bulan.
3. Memasang foto pacarnya sebagai profile picture Facebook, Twitter, BBM, Whatsapp dan akun medsosnya yang lain.
Coba bayangkan, namanya Andre tapi fotonya menggunakan foto wanita. Ada orang yang akan bertanya-tanya apakah akun si Andre ini dijual ke wanita? Ataukah Andre telah berangkat ke Singapura dan ganti kelamin?
4. Nama belakangnya diganti menjadi nama belakang pacarnya
5. Tiap hari mention-mentionan mesra di media sosial, bahkan kadang melebihi 3x sehari (over dosis jadinya)
6. Bermesraan di depan umum
7. Tidak segan membatalkan janji dengan orang lain demi memenuhi keinginan pacarnya.
Pacaran merupakan perbuatan zina dan zina adalah salah satu dosa besar. Islam adalah agama yang mengharamkan perbuatan zina, termasuk juga perbuatan yang mendekati zina.
"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan sesuatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra, 17 : 32)
Bila kemudian ada istilah pacaran yang Islami, sama halnya dengan memaksakan adanya istilah, menenggak minuman keras yang Islami. Mungkin, karena minuman keras itu di tenggak di dalam masjid. Atau zina yang Islami, judi yang Islami, dan sejenisnya. Kalaupun ada aktivitas tertentu yang halal, kemudian dilabeli nama-nama perbuatan haram tersebut, jelas terlalu dipaksakan, dan sama sekali tidak bermanfaat. (Sutra Asmara, ustadz Abu Umar Basyir).
Terkadang sepasang manusia mengelak dikatakan berpacaran dengan dalih bahwa hubungan mereka hanya teman dekat dan tidak melanggar aturan Islam meski dalam prosesnya ada hal-hal yang seharusnya tidak mereka lakukan.
Ibnul Qayyim menjelaskan,
”Kalau orang yang sedang dilanda asmara itu disuruh memilih antara kesukaan pujaannya itu dengan kesukaan Allah, pasti ia akan memilih yang pertama. Ia pun lebih merindukan perjumpaan dengan kekasihnya itu ketimbang pertemuan dengan Allah Yang Maha Kuasa. Lebih dari itu, angan-angannya untuk selalu dekat dengan sang kekasih, lebih dari keinginannya untuk dekat dengan Allah”.
Dalam Islam yang dikenal adalah taaruf, kegiatan bersilaturrahmi, atau berkenalan bertatap muka, atau bertamu ke rumah seseorang dengan tujuan mencari jodoh. Taaruf dapat juga dilakukan jika kedua belah pihak keluarga setuju dan tinggal menunggu keputusan anak untuk bersedia atau tidak untuk dilanjutkan ke jenjang khitbah atau melamar, taaruf juga dimaknai dengan mempertemukan yang hendak dijodohkan dengan maksud agar saling mengenal.

Apakah perbedaan pacaran dengan taaruf?

A. Pacaran :
1. Tanpa komitmen yang jelas
2. Kebanyakan berdasar dorongan hawa nafsu
3. Dilarang agama Islam
4. Mendapat dosa
5. Melanggar larangan Allah dan RasulNya
6. Dekat dengan zina
7. Sering mendapat fitnah
8. Sukanya sembunyi-sembunyi
9. Merendahkan kehormatan diri
10. Allah SWT murka
11. Selalu bergelimang kemaksiatan
12. Setan tertawa bahagia dan bangga
13. Sering galau
14. Berakhir penyesalan

B. Taaruf :
1. Punya tujuan yang jelas (menikah)
2. Dorongan untuk menyempurnakan ibadah
3. Dianjurkan agama kita
4. Mendapat pahala
5. Mengikuti sunnah Rasul
6. Dekat dengan barakah
7. Malah mendapat rahmat
8. Bisa terang-terangan dengan tenang
9. Memuliakan diri
10. Allah SWT ridha
11. Selalu bermakna ibadah
12. Setan bersedih dan menderita
13. Hati tenang
14. Berakhir bahagia

Namun cinta manusia yang berlebihan kepada selain Allah SWT tidak hanya mengarah kepada cinta sesama manusia, cinta manusia dapat mengarah kepada cinta terhadap kesenangan dunia yang lain, misalnya harta atau jabatan.
Cinta kepada kenikmatan dunia yang lainnya pun tidak kalah berbahayanya dengan cinta yang berlebihan kepada sesama manusia jika telah mencapai fase yang akut, dan biasanya cinta dunia akan diiringi dengan perasaan takut mati.
Setiap manusia memiliki cita-cita dalam hidupnya. Mungkin di antaranya ada yang berfikir untuk menambah harta, berfikir apa yang akan kita makan untuk esok hari, masa depan keluarga, memperoleh jabatan, dan berbagai hal untuk masa depan yang sebenarnya sangat singkat yaitu kenikmatan hidup di dunia. Tetapi banyak yang lalai dari memikirkan hari-hari di kehidupan yang kekal, yaitu  akhirat, kurang memikirkan bagaimana kondisi imannya saat ini dan apa yang telah disiapkan untuk menghadapi hari akhirat nanti.
         Salah satu hal yang membahayakan keimanan seorang muslim adalah cinta dunia, jika mereka berubah menjadi penikmat cinta dunia yang telah buta mata hatinya atau dikatakan pula penikmat cinta buta. Karena cinta dunia, maka seorang petani membanting tulang untuk urusan pertaniannya. Apakah mereka sudah melakukan hal yang sama untuk urusan agamanya? Jika tidak, maka ada indikasi penyakit Al-Wahn (cinta dunia) di dalam dirinya. Bahaya cinta dunia sangatlah besar, dapat menyebabkan seseorang menjadi kafir. Na’udzubillahi min dzalik.

Rasulullah Muhammad SAW bersabda yang artinya sebagai berikut :
“Bersegeralah beramal shalih, sebelum datang fitnah-fitnah yang banyak. Seseorang di waktu pagi masih beriman, namun di sore hari ia kafir. Atau seseorang di sore hari ia beriman, dan di pagi hari ia kafir. Dia menjual agamanya dengan secuil kesenangan dunia.” (HR Muslim).

        Di antara ciri - ciri orang yang terkena penyakit Al-Wahn atau cinta dunia adalah sebagai berikut:

1.  Tidak senang beribadah
Termasuk dalam hal ini adalah malas beribadah dan ketika beribadah dilaksanakan secara kilat dan ingin segera selesai, pikiran mereka terfokus kepada kesenangan dunia seperti pacar, harta atau kesenangan yang berorientasi dunia lainnya.
2.  Kikir
Orang yang cinta dunia akan cenderung kikir, khawatir jika bersedekah akan mengurangi hartanya.
3.  Sering berdusta
Sering berdusta disini sifatnya umum, baik itu dalam jual beli maupun dalam bidang yang lain. Tidak takut dengan ancaman dari Allah SWT.
4. Suka berkhianat atau ingkar janji, salah satu contohnya ketika dia lebih mementingkan untuk bertemu dengan pacarnya dan membatalkan janji dengan orang lain.
5.  Pengecut dan malu dengan kebenaran
6. Tidak mau beramar ma’ruf dan nahi munkar, malah melakukan perbuatan-perbuatan maksiat dan yang melanggar aturan agama Islam.

Cinta dunia atau cinta buta terhadap kesenangan dunia adalah ketidakpuasan atas segala yang dimiliki, tidak bersyukur dengan pemberian dari Allah SWT, dikatakan demikian karena Allah SWT telah memberikan tuntunan dalam Alquran dan hadits untuk diamalkan namun dilanggar oleh para penikmat cinta dunia yang telah buta mata hatinya.

Dinukil dari tulisan Ahmad Mujahid Izzulhaq, 2016

"Pada akhirnya, kita akan mengerti bahwa semua nikmat dunia itu sama saja rasanya...
Mobil pertama saya pabrikan Jerman. Sedan 3 huruf seri 320i. Ketika mengendarai untuk pertama kali, sensasinya memang beda. Namun tidak berapa lama selanjutnya rasanya sama saja.
Ketika berpindah ke model sport pabrikan Amerika Serikat berseri nama sebuah gunung, tadinya ingin merasakan sensasi yang berbeda. Namun ternyata rasanya sama saja. Begitu-begitu saja.
Kata orang, Alphard atau Velfire itu sensasinya beda. Faktanya, nggak ada yang berbeda. Rasanya sama.
Demikian pula tentang makanan. Makan di restoran mewah, dengan panganan dan menu yang wah, konon ada sensasi berbeda. Harganya _sih_ pasti iya. Namun, berapa lama? Seminggu? Sehari? Tidak. Tidak pernah lama. Hitungan menit saja. Setelah itu, sensasi itu akan berubah menjadi rasa yang sama saja dengan jika kita makan di rumah makan biasa, warung tegal atau makan di rumah dengan chef pasangan hidup kita walau dengan menu ala kadarnya. Sensasinya memang sesaat beda, namun rasa yang timbul selanjutnya sama. Rasa kekenyangan.
Mungkin melihat rumah luas dan mewah berlantai tiga itu ada sensasi yang berbeda. Furnitur yang wow lengkap dengan barang elektronik yang serba canggih konon bersensasi luar biasa.
Namun tanyalah kepada yg pernah atau sedang memilikinya. Sensasi mewah itu akan berubah dengan cepat saja. Tidur di kasur busa dengan di kasur berharga puluhan juta sama saja memejamkan mata.
Makan dengan sendok perak dengan makan dengan sendok plastik, sama-sama memasuki mulut yang sama.
Rasanya sama dengan rumah biasa. Milik sendiri atau pun menyewa. Begitu seterusnya dan lain sebagainya.
Demikianlah kenikmatan dunia. Semuanya hanya menawarkan sensasi. Namun semuanya akan berakhir pada rasa yg sama. Itulah kenapa seringkali diingatkan bahwa kenikmatan dunia itu menipu. Palsu.
Artinya, memiliki atau tidak memiliki. Dititipi ataupun tidak dititipi. Mestinya kita tinggal mengelola rasa saja. Karena semuanya akan berakhir dengan hal yang sama, ketiadaan.
Jika boleh dianalogikan, segala hal tentang dunia adalah ibarat donat. Panganan bulat yg berlubang di tengahnya. Sensasinya memang ada, namun hanya di pinggiranmya saja. Setelahnya hampa. Kosong saja. Tiada.
Bahwa jika pada akhirnya, kita akan mengerti bahwa semua nikmat dunia itu sama saja rasanya. Maka bersyukur (menerima, merasa cukup, berterimakasih, dan berbagi) adalah jawaban atas segala permasalahan tentang sensasi dan rasa pada segala sesuatunya tentang dunia.
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak.

Sungguh rugi jika mencintai sesuatu atas dasar hawa nafsu dan bertujuan untuk memuaskan keinginan dunia saja.
Dalam Islam telah diajarkan untuk menyalurkan cinta sebagai fitrah manusia yang semuanya harus bertujuan sebagai bentuk cinta kepada Allah SWT.
Sesungguhnya Allah SWT telah menjadikan pengikut hawa nafsu sebagai penentang kebenaran, Allah SWT berfirman dalam Alquran yang artinya :
“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal (nya)." (QS. An Nazi'at 40-41)