Kamis, 31 Mei 2018

Penting untuk Menerapkan Pola Pendidikan Anak seperti Ini!

oleh: Asriana

Dunia pendidikan Barat menyebutkan bahwa usia perkembangan intelektual anak pada usia 0-4 tahun (50%) dan 4-8 tahun (30%) yang dinamakan Golden Age (Masa Keemasan). Namun jauh sekitar 15 abad yang lalu, Nabi Muhammad SAW telah mengemukakan:

”Perumpamaan orang yang mencari ilmu pada masa kecilnya bagaikan mengukir menulis di atas batu, dan perumpamaan orang yang
belajar di waktu dewasa bagaikan menulis di atas air.” (HR. Thabrani)

Seni mendidik anak menurut Ali bin Abi Thalib dibagi ke dalam 3 tahap yaitu:

Usia 0-7 tahun, di sini orang tua mendampingi anak-anaknya dalam bermain, dapat diisi dengan permainan yang mengenalkan anak akan nilai-nilai tauhid.
Usia 7-14 tahun, masa penting orang tua mengajarkan dan menanamkan kedisiplinan kepada anak
Usia 14 tahun ke atas, saat usia anak telah beranjak remaja maka peran orang tua sebagai sahabat dan mitra.

Metode mendidik anak sesuai sunnah sebagai berikut:

1. Menanamkan nilai tauhid melalui pembiasaan dan keteladanan
2. Mendekatkan anak ke masjid, berusaha memberi contoh dengan rajin ke masjid dan mengajak anak untuk ikut.
3. Senantiasa mendirikan shalat sehingga menjadi contoh bagi anak, dan memberi pemahaman kepada mereka tentang shalat sebagai kewajiban
4. Mendidik  anak dengan pola hubungan dengan lingkungan atau pendidikan etika Islami yang baik, menjaga kondisi keluarga untuk senantiasa menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari
5. Mendidik anak menjadi manusia yang selalu bersyukur
6. Menanamkan nilai kejujuran dalam semua lini kehidupan sejak dini
7. Menanamkan keyakinan dan kebiasaan berdoa terutama untuk orang tua mereka
8. Menganjurkan anak memiliki kepekaan dan semangat menyebarkan kebaikan bagi sesama.
Anak adalah rahmat dan amanah dari Allah, investasi  penting untuk dunia dan akhirat. Mereka dapat menyeret ke neraka atau menuntun orang tuanya ke surga. Pendidikan yang terbaik untuk anak-anak dimulai dari rumah, kondusif dalam hal perkembangan psikologi, kognitif, afektif serta agama.

Jika anak telah memasuki usia Sekolah Menengah kemudian di antara anak dan orang tua telah membuat resolusi tentang sekolah yang baik untuk si anak, itu hal yang sangat dianjurkan, berusaha tidak memaksa anak dalam hal sekolah yang harus dipilihnya tapi memberi gambaran bahwa sekolah yang disarankan oleh orang tuanya sangat baik.

Ada beberapa hal yang harus dihindari dalam pola pengasuhan dan mendidik anak menurut bunda Heradini, S.Psi., yaitu:

1. Jangan menuruti semua keinginan anak. Walaupun kita sangat mencintai anak, menuruti semua keinginannya bukanlah cara yang benar. Biasakanlah anak berusaha mengerjakan tugasnya sendiri agar mereka belajar untuk bertanggung jawab sehingga tidak selalu bergantung kepada orang tua, belajar mandiri.

2. Jangan terlalu melarang anak melakukan sesuatu yang baru jika tidak membahayakan. Sikap khawatir berlebihan akan melahirkan anak penakut dan tidak percaya diri.

3. Jangan menghukum dengan kekerasan fisik. Adalah wajar jika anak-anak melakukan kesalahan, bahkan berkali-kali. Yang kadang membuat emosi orang tua terkuras. Ketika emosi sudah memuncak, para orang tua harus tetap smart, jangan memaki dan memberi hukuman fisik. Hukuman fisik tidak akan mendidik. Hanya akan melukai badan dan hati, sifat anak akan berubah sementara dan hanya ketika bersama orang yang ditakuti. Luka hati efeknya akan muncul di kemudian hari akibat anak memendam kemarahan. Pilihlah hukuman yg proporsional, misalnya masuk kamar atau merapikan barang yang berantakan. Hukuman yang mendisiplinkan.

4. Perhatian. Bukan hanya terpenuhinya semua kebutuhan materi, yang utama adalah kasih sayang orang tua.

Rabu, 30 Mei 2018

Ingin Bahagia? Bertemanlah dengan Orang-orang Ini

oleh: Asriana

Banyak orang yang merasa sendiri dalam keramaian, sepi di antara hingar bingar pesta bersama teman-temannya. Hal ini bisa jadi salah satu ciri bahwa dia bersama dengan teman yang tidak dapat membawa kebahagiaan baginya. 
Allah memberikan petunjuk agar manusia berteman dengan orang-orang yang tidak hanya membawa manfaat di dunia tetapi juga dapat menolongnya di akhirat, yaitu orang-orang yang shaleh, meski tidak mudah menemukannya.
Menurut ustazah Fitrianingsih, untuk dapat bersama dengan orang-orang shaleh adalah hal yang mahal, karena itu adalah salah satu wujud kasih sayang Allah, jadi jika saat ini bersama dengan mereka maka jangan menjauh dan kuatkanlah tekad untuk tetap bersama-sama orang-orang shaleh. Kita harus rela menebusnya dengan apapun, agar kebersamaan tetap terpelihara.
Peganglah dengan erat saudara-saudara shaleh kita. Dalam kondisi hati dalam ketaatan, saudara yang shaleh akan mendorong kita untuk berbuat ketaatan yang lebih banyak lagi. Dalam kondisi yang sedang lalai, mereka akan mengingatkan kita dari kelalaian. Ketika hati kita tersayat dan terluka oleh dosa, saudara yang shaleh akan membantu mengobati kita dan membuat kita bisa pulih kembali.
Duduk bersama mereka, membaca ayat-ayat Allah, merenungi petunjuk Rasulullah atau hanya sekadar bertatap muka atau bertelepon atau memberikan pesan. 
Kebiasaan para salafusshalih dahulu senang duduk-duduk atau sekedar bertatap muka bersama orang-orang shaleh. Mereka bisa menenteramkan hati.
Datanglah ke rumah saudara-saudara kita yang shaleh, seperti yang dilakukan Maimun bin Mahram yang pergi kepada guru generasi tabiin Hasan Al Bashri. Maimun mengetuk rumah Hasan Al Bashri dan mengatakan, “Wahai Abu Said (panggilan Hasan Al Bashri) aku mulai merasakan kekerasan dalam hatiku. Bantulah aku untuk melembutkannya kembali."
Ada orang-orang yang memiliki kekuatan iman yang tinggi sehingga mereka bisa memberi kesejukan dalam diri kita. Mereka adalah orang-orang yang selama ini ada dan berjalan bersama-sama kita di sini, di jalan menyebarkan dan mengajak kepada kebaikan, jalan yang telah ditempuh para Rasul dan Nabi. Meski mereka tidak sebaik generasi para sahabat, para tabiin dan para salafusshalih, tapi pancaran wajah mereka bisa membuat kita luluh. Meski mereka tidak setingkat dengan kualitas para sahabat, para tabiin dan para salafusshalih, namun kata-kata mereka bisa membuat hati menjadi lembut.
Darimanakah kita bisa memperoleh orang-orang seperti itu ? “Hati bisa merasakan apa yang tidak bisa dipandang oleh mata,” itu kata Ibnu Taimiyah.
Hatilah yang akan menuntun kita untuk mencari orang-orang shaleh yang kita butuhkan.
Menurut Ibnu Taimiyah, seharusnya bagi orang beriman tidak terlalu sulit menilai dan membedakan sesuatu. Karena menurutnya, “ Seseorang tidak mungkin bisa merahasiakan sesuatu dalam dirinya, karena Allah akan menampakkan rahasia itu pada lembaran wajahnya dan perkataan lisannya.
"Dan barangsiapa yang senantiasa menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya," (QS. 4: 6)

Selasa, 29 Mei 2018

Jurus Jitu Mengelola Cemburu, Berani Coba?

oleh: Asriana


Ada nggak sih orang yang tidak pernah cemburu? Sikap wajar yang dapat menyerang siapa saja, perasaan kurang nyaman ketika orang yang disayangi memberikan cinta atau perhatian lebih banyak kepada orang lain.
Bagi suami istri, cemburu bisa datang pada saat pasangan memberikan perhatian yang dianggap berlebihan pada orang lain.
Dalam lingkungan keluarga, cemburu hinggap di antara satu atau beberapa anggota keluarga ketika kasih sayang atau perhatian yang diberikan dianggap berbeda. Cemburu juga mewarnai dan menghiasi dunia persahabatan, tempat kerja, komunitas dan lingkup masyarakat yang lebih luas.
Berdampak baik atau burukkah perasaan itu? Bergantung pada kita bagaimana mengelolanya!
Meski cemburu lebih sering dianggap merupakan perasaan yang kurang menyenangkan, sesungguhnya cemburu dapat berpotensi kebaikan jika tidak berlebihan. Cemburu sebagai salah satu tanda sayang memiliki dua fungsi layaknya sebuah pisau, ketajamannya berpotensi melukai namun dapat didayagunakan untuk keperluan yang bermanfaat seperti memotong buah.
Seperti yang dikemukakan oleh ibu Riyanti selaku Ketua Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga Kabupaten Sleman, bila berada pada posisi orang yang “dicemburui”, perubahan sikap sahabat atau pasangan akan terjadi sejak kita sibuk dengan berbagai aktivitas yang menuntut kita menghabiskan waktu dengan orang lain.
Cemburu bertitik tolak pada perasaan manusia yang dianugerahkan oleh Sang Pencipta, hanya Allah yang sanggup mengendalikan dan membolak-balikkan hati.
Berikut ini cara keren mengelola cemburu:
1. Hindari berprasangka buruk
Jika perasaan cemburu hinggap ke dalam kalbu, jauhi buruk sangka. Jangan terburu-buru membuat kesimpulan ketika perasaan itu datang. Berkomunikasi dengan sahabat, pasangan atau keluarga tentang hal yang membuat kita kurang nyaman dan cemburu merupakan langkah positif. Mengungkapkan perasaan kita akan membuat hati menjadi lebih lega dan orang yang dicemburui pun tentu dapat memberi penjelasan.
2. Membina kesabaran
Jika timbul rasa cemburu, maka bersabarlah karena ini juga menjadi faktor pendukung dalam mengelola cemburu. Sabar merupakan sikap menempatkan diri atau pendapat kita pada keadaan yang tepat, jadi bukanlah sikap pasrah. Salah satu jenis sabar adalah kesabaran ketika tidak mendapat perhatian dan kesabaran untuk memberikan perhatian.
Dapat diperiksa kembali apakah selama ini ketika kita meminta perhatian dan kasih sayang orang yang kita cintai, kita telah memberi perhatian dan kasih sayang kepada mereka. Atau mungkin selama ini kita hanya jadi “pembicara” tetapi jarang menjadi "pendengar".
3. Semakin mendekatkan diri kepada Allah
Allah yang mengendalikan hati manusia maka sepatutnyalah kita semakin mendekatkan diri padaNya agar rasa cemburu kita tidak berbuah keburukan. Rasulullah SAW bersabda,
"Tiada seorang berdo’a kepada Allah dengan suatu do’a, kecuali dikabulkanNya, dan dia memperoleh salah satu dari tiga hal, yaitu dipercepat terkabulnya baginya di dunia, disimpan (ditabung) untuknya sampai di akhirat, atau diganti dengan mencegahnya dari musibah (bencana) yang serupa."(HR. Ath-Thabrani).
Tidak perlu merasa "aneh" ketika terserang rasa cemburu, namun kita harus cerdas dalam mengelolanya agar tidak berdampak buruk.

Senin, 28 Mei 2018

Jangan Lelah Berdoa

oleh: Asriana


Ketika harapan tak kunjung terwujud, saat keinginan tak jua terpenuhi, atau ketika masalah tiada pernah usai. Kadang terpikir untuk berhenti berdoa.
Sebulan, setahun dan ribuan hari yang terlewati dengan hiasan doa terasa hampa dan hanya sia-sia. Lelah sering menghampiri, menyapa agar diri menyerah dan doa pun mulai terhenti.

Setiap doa yang kita langitkan penuh harap, setiap doa yang lirih kita ucapkan dengan penuh penghambaan, setiap doa yang dengannya air mata tertumpah akan diterima oleh Allah SWT.

"Dan bila hamba-hamba-Ku bertanya tentang Aku maka sesungguhnya Aku begitu dekat, dan Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa jika dia berdoa kepada- Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS. Al Baqarah:186).
Dan Allah dengan segala kasih sayangnya, akan menjawab doa itu dengan cara-Nya yang kadang tidak pernah disangka. Seringkali Allah telah mengijabah doa kita namun diri tak tahu hakekat dan bentuk ijabah tersebut. Karena “respon baik” terhadap doa beragam.

Disebutkan dalam sebuah hadist, dari Abu Said radhiallahu ‘anhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang muslim yang berdoa serta doanya tidak berisi perbuatan dosa atau memutuskan tali silaturrahim, kecuali Allah akan memberikan salah satu di antara tiga balasan:  1) Allah kabulkan doanya, 2) Allah menghindarkan dirinya dari musibah yang senilai dengan doanya dan 3) Allah simpan dalam bentuk pahala untuk dia di akhirat.” (HR. Ahmad, Turmudzi, dan Hakim; dinilai shahih oleh Musthafa Al-Adawi)

Yang perlu dilakukan adalah terus berdoa, untuk menjemput takdirnya. Untuk melawan takdir yang tidak diinginkan. Untuk mewujudkan apa yang tidak mampu dilakukan.

Manusia perlu memahami bahwa sudut pandangnya terbatas, jangkauan pandangnya tidak luas, dan apa yang dia ketahui sedikit saja. Sehingga ketika sesuatu terjadi di luar apa yang dikehendaki, ia diminta tetap bersabar dan bersyukur. Tak jarang, hamba-Nya yang shaleh bahkan menikmati masa-masa dimana doanya belum dikabulkan. Karena itulah yang membuatnya semakin khusyu' larut dalam zikir dan salat.

Minggu, 27 Mei 2018

Dalam Lingkaran Ukhuwah


oleh: Asriana


Ukhuwah adalah cinta yang mengalir melalui keimanan…
Menguatkan, menjaga, memperbaiki, memberi, menghilangkan kelalaian dan saling mengingatkan.

Ukhuwah tak mengenal kesudahan, ia mengiringi dalam kehidupan sebagai penyejuk, menyapa dalam kesendirian yang melelahkan.
Tentang hati yang terikat dan do'a-do'a yang saling bertaut dan tulus yang menjelma.

Biarkan mengalir seperti air yang menyejukkan,  bagai udara yang melegakan.
Biarkan ia tumbuh seperti benih yang tersemai dan bunga yang bermekaran, bukan sekadar bahagia tetapi bersama meraih jannah-Nya.

Perjalanan ukhuwah selamanya akan bermakna, yang membuat hidup lebih indah, membuat kaki tegak di jalan dakwah, membuat hati istiqamah dalam iman, membuat raga kokoh menapaki kerikil ujian, menjadikan nafas panjang menyelami lautan ilmu.

Meski ukhuwah tak selamanya tanpa riak ujian, namun tetap genggam dia dengan erat, lalu bercerminlah mengoreksi diri. Saat luka tergores dalam menjalani ukhuwah, mungkin iman kita ada di titik kritis.

Tetaplah di lingkaran ukhuwah, bersama dalam bingkai cinta kepada Allah.

🦋

Menuju Puncak Kelezatan


oleh: Asriana


Bagaimana perasaan kita ketika shalat?
Ketika tilawah atau ibadah lainnya?

Masihkah kita ingin terburu-buru menyelesaikannya?
Masihkah pikiran kita dipenuhi dengan bayangan hal-hal tentang dunia, padahal kita sedang menemui-Nya?
Masihkan kita gundah gulana bin galau tiada tara?
Atau masihkah emosi kita tidak terkendali?

Mari senantiasa beristighfar dan memperbarui taubat, agar semakin meresap ke dalam hati dan jiwa.

"Jika kita benar-benar mengenal Allah dengan baik dan benar justru ibadah itu penyejuk mata manusia, puncak kelezatan dan kedamaian hati serta kenikmatan tersendiri yang tiada duanya."
(Ibnul Qayyim)

Mari kita sama-sama bermuhasabah, semoga diri ini diberi kemudahan oleh Allah untuk semakin mencintai-Nya, hingga tercapai kenikmatan dalam ibadah, agar selalu damai hati ini. Aamiin..
Wallahu A'lam.


Sabtu, 26 Mei 2018

Ini Nih Tips Jitu Menjadi Pasangan Romantis!

oleh: Asriana


Siapa sih yang tidak suka jika memiliki pasangan yang romantis? Selalu ada kejutan manis yang tersuguh saat bersamanya. Di dalam Islam, romantis sangat dianjurkan untuk dihadirkan oleh pasangan yang telah menikah.

Ada yang berprasangka bahwa Islam itu kaku termasuk dalam urusan ini padahal tidak benar, Rasulullah SAW adalah suami dan ayah yang romantis. Menurut bunda Rochma Yulika, seorang penulis, guru dan aktivis dakwah dari Yogyakarta. Adapun menjadi pasangan romantis, ini yang dapat kita lakukan:

1. Berupaya mengenal dan memahami

Dari sikap, cara bertutur bahkan kebiasaan pun mulai dikenali, dulu pada masa ta'aruf kan hanya sepintas nah jika sudah masuk jenjang pernikahan mulai muncul aslinya. Maka belajar memahami menjadi keharusan, bukan bagaimana kamu mengerti aku tetapi seharusnya aku bisa memahamimu.

2. Adanya perasaan timbal balik

Pekerjaan dilakukan bersama bahkan saling bergantian. Tidak selamanya suami bekerja di kantor atau di luar rumah saja, bolehlah di dapur membantu istri untuk memasak. Karena di masyarakat sudah terkonstruksi bahwa pekerjaan dapur itu hanya dilakukan oleh wanita sehingga kata sumur, dapur, jemur itu hanya untuk wanita.

3. Saling menghormati

Perasaan wanita dan pria itu tak sama. Jika belajar psikologi Adam dan Hawa maka kita akan mengerti mengapa wanita jauh lebih banyak berbicara daripada pria. Istri kadang hanya ingin dimengerti perasaannya, namun jangan hanya berharap. Lakukan hal yang sama kepada para suami. Sehingga selalu ada rasa saling menghormati.

Saling menghormati yang dimaksud adalah:

A. Perkataan dan perasaan masing-masing

B. Bakat dan kecenderungan serta kebiasaan masing-masing

C. Menghargai latar belakang keluarga serta keadaan keluarga kedua belah pihak

4. Berusaha saling menyenangkan pasangan

Apa yang disukai pasangan haruslah kita mengerti sehingga pasangan merasa diperhatikan dan disayangi meski hanya hal kecil.

5. Mengatasi masalah bersama

Tertawa bersama, menangis bersama, menjalani jatuh bangun bersama seperti itu yang akan mengeratkan maghligai cinta antara suami isteri.

6. Menerima segala kekurangan pasangan karena kita pun tidak sempurna

Dengan kekurangan kita saling melengkapi, selayaknya mur dan baut.

7. Berterus terang dengan pasangan

Komunikasi yang efektif memudahkan kita berbicara banyak hal. Namun tentunya tidak semua hal, bukan berarti kita bermaksud menyembunyikan sesuatu.
Misalnya saja kita tahu tentang seseorang yang memiliki banyak kekurangan, hal itu tidak perlu kita buka kepada pasangan.

8. Kepedulian dan solidaritas

Memahami karakter pasangan menunjukkan sikap kepedulian. Memahami dengan cara menyikapi masalah pasangan secara bijaksana dan menjadi sandaran yang membantu untuk mencari solusi.

Semoga kita dapat menjadi orang yang romantis, menghadirkan cinta dan keindahan bagi pasangan kita.

Jumat, 25 Mei 2018

Ungkapkanlah Cintamu


oleh: Asriana


Kekuatan cinta, itulah yang menjadi urat nadi dalam berukhuwah. Ketika diikat oleh tautan persaudaraan karena iman kepada Allah, karena cinta kepada Allah maka tumbuhlah benih-benih cinta kepada saudara seiman.

Namun, pernahkah kita mengungkapkan cinta itu? Meski do'a untuk kebaikan saudara kita selalu melangit, mengungkapkan cinta kepada mereka akan semakin memaniskan cita rasa ukhuwah.

Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila seseorang mencintai saudaranya, hendaklah dia mengatakan cinta kepadanya.”
(Abu Dawud dan Tirmidzi, hadits shahih)

Anas r.a. mengatakan bahwa seseorang berada di sisi Rasulullah Saw.
lalu salah seorang sahabat melewatinya. Orang yang berada di sisi Rasulullah tersebut mengatakan, “Aku mencintai dia, ya Rasulullah.” Lalu Nabi bersabda, “Apakah kamu sudah memberitahukan dia?” Orang itu menjawab, “Belum.”
Kemudian Rasulullah Saw. bersabda, “Beritahukan kepadanya.”
Lalu orang tersebut memberitahukannya dan berkata, “Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.”
Kemudian orang yang dicintai itu menjawab, “Semoga Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya.”
(Abu Dawud, dengan sanad shahih)

Jadi, ungkapkanlah cinta kita kepada orang yang dicintai.
Wallahu a'lam bish shawab.

🦋

Rabu, 23 Mei 2018

Manusia-manusia Langit


oleh: Asriana


Nafas kehidupan kita adalah derap-derap langkah menuju kematian, jika kaki ini telah sampai di garis finish maka itulah isyarat  kontrak kerja kita berakhir.
Maka cerdasnya orang beriman adalah mengisi masa kontraknya dengan visi dan misi akhirat, bukan dengan memburu dunia.

Kelezatan dunia bak candu, jika hati tak berperisai iman yang kokoh, bukan tak mungkin kita akan tenggelam di dasarnya.
Kita akan terlena jika keindahan dunia menjadi penuntun jiwa, lukisannya menyilaukan mata manusia yang menatapnya dengan nafsu.

Sejatinya kita menjadi manusia-manusia langit, yang akhiratnya terpatri di hati meski dunia dalam genggaman, tak tergoda oleh manisnya hidup yang sesaat, agar di dunia kita tak terhempas sehingga asa meraih surga pun kandas.

Seperti ungkapan Ibnul Qayyim rahimahullah, “Jika hanya Allah yang kamu tuju, maka kemuliaan akan datang dan mendekat kepadamu, serta segala keutamaan akan menghampirimu. Kemuliaan sifatnya mengikuti. Artinya, jika kamu menuju Allah, kemuliaan akan mengikutimu. Tapi jika kamu hanya mencari kemuliaan, Allah akan meninggalkanmu. Jika kamu telah menuju Allah kemudian tergoda untuk mencari kemuliaan selain bersama Allah, maka Allah dan kemuliaan-Nya akan pergi meninggalkanmu.”

Jika membawa dunia dalam jiwa kita, hidup tak akan dinaungi keberkahan.
Maka jaga iman agar tetap hidup, genggam erat agar dia tak pergi.
Karena iman yang menuntun ke jalan keselamatan, menapaki dunia yang penuh jebakan.

Ada surga di hati orang beriman, surga yang membuatnya bahagia di tengah pahit getirnya kehidupan. Kebahagiaannya hanya dari Rabbnya bukan di tangan manusia.

Selasa, 22 Mei 2018

Agar Pernikahan Dini Menjadi Solusi Tanpa Kontroversi!


oleh: Asriana


Tantangan hati single zaman now lebih berat bila dibandingkan zaman old. Pergaulan bebas, adab terhadap lawan jenis yang tidak terbatas, percakapan sering menyalahi norma dan tatanan kehidupan beragama. Menurut bunda Rochma Yulika seorang pegiat dakwah dari Yogyakarta, salah satu solusi agar tak terperangkap dalam kenistaan adalah pernikahan dini. Ketika solusi itu diambil, bukan hanya serta merta anak usia lepas SMA ingin menikah, ada jodoh maka selesailah urusan. Tidak sesimpel itu.
Menikah bukan hanya melibatkan dua orang tetapi ada keluarga yakni ayah ibu dan keluarga besar juga. Atau sebaliknya hanya pihak orang tua saja yang ingin sementara anak tak ingin. Tugas orang tua yang utama itulah menyiapkan anak-anaknya untuk siap menikah di usia dini.
Tetapi ketika orang tua tak memahami hal itu maka butuh pendekatan yang lama. Maka kewajiban anak untuk harus menunjukkan kemampuan bersikap dewasa.
Mengajak orang tua berbicara sebagai permulaan sharing tentang pernikahan dini. Memberi contoh anak-anak ustad yang menikah dini. Atau mengajak mereka mengikuti kajian atau video tentang pernikahan dini sebagai solusi untuk menghindarkan diri dari segala fitnah dunia.
Ada hal yang perlu dipersiapkan secara pribadi ketika benar-benar mencitakan pernikahan dini, yaitu:
1. Kematangan konseptual dalam memahami paradigma keluarga dakwah itu seperti apa. Mengerti sejauhmana peran yang diemban ketika memasuki ranah keluarga sementara dirinya tetap harus berkiprah di jalan dakwah
2. Kematangan psikologis. Bahwa hidup kita itu tidak sendiri. Kita akan bertemu dengan pribadi yang belum dikenal sebelumnya bahkan keluarga yang memiliki latar budaya berbeda
3. Kematangan sosial. Belajar berinteraksi dengan orang lain menggunakan adab yang baik
4. Kematangan tentang ekonomi. Memiliki semangat kerja. Berusaha belajar mencari nafkah jika sebelumnya belum pernah bekerja
5. Kematangan agama. Memahami hal-hal pokok dalam beragama sebagai pedoman dalam menjalankan perannya sebagai hamba Allah
6. Kematangan emosi. Belajar mengontrol emosi diri karena kita tidak hidup sendiri tapi bersama. Mengurangi sikap yang meledak-ledak dan membuang ego.
Nah itu beberapa poin yang menjadi landasan membangun berkeluarga. Allah SWT berfirman, "Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan yang perempuan." (QS. An Nur:32).
Hikmah disyariatkannya pernikahan adalah menciptakan keluarga yang sakinah dan memperoleh keturunan. Maka kemampuan menjaga keturunan tersebut juga dipengaruhi usia calon mempelai yang telah sempurna akalnya dan siap melakukan proses reproduksi.
Menurut syariat Islam, usia kelayakan pernikahan adalah usia kecakapan berbuat dan menerima hak. Islam tidak menentukan batas usia namun mengatur usia balig untuk siap menerima pembebanan hukum Islam. 






Ini Nih Solusi Segala Masalah

oleh: Asriana

 Salah satu ciri khusus bahwa kita berpijak di dunia adalah masalah, yang tidak akan pernah hilang dari kehidupan manusia. Siapapun yang masih hidup di bumi ini pasti akan menghadapi masalah, pada prinsipnya setiap jiwa memiliki masalah.
Allah sebagai pencipta alam semesta telah mengetahui dan telah mempersiapkan metode terbaik dalam menghadapinya yakni shalat dan sabar.

1. Shalat

"Hai orang-orang yang beriman, jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnha Allah bersama orang-orang yang sabar" (QS. Al Baqarah:153)

Aidh Al Qarni dalam buku La Tahzan menjelaskan jika hati terasa sangat rumit dan sangat banyak masalah, maka bersegeralah untuk shalat.

"Dan perintahkan kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya."(QS. Thaha:132)

Jadi shalat sebenarnya  bukan semata ritual, tetapi sumber menyedot dan menyadap kekuatan Ilahiyah agar setiap jiwa mampu menghadapi masalah dengan tenang, cerdas dan bijak. Sebab dalam shalat ada masa dimana Allah sangat dekat pada seorang hamba yakni di saat sujud.
"Sedekat dekat seorg hamba kpd Tuhannya yaitu ketika ia sujud maka perbanyaklah berdoa d dlm sujud."(HR. Muslim)
Dengan  demikian  mari kita jadikan shalat sebagai media  penting dalam hidup kita untuk benar-benar dekat kepada Allah dalam mentelesaikan setiap masalah. Bukan sekadar penggugur kewajiban dan kurang antusias  menjalankannya.

2. Sabar

Menurut Aidh Al Qarni sabar adalah kemampuan jiwa untuk senantiasa berlapang dada, berkemauan keras serta memiliki  ketabahan yang besar dalam menghadapi masalah kehidupan.
Bahkan tdk ada masalah yang tidak dapat diatasi dengan sabar, insya Allah.


"Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah buahan . Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar."(QS. Al Baqarah:155)

3. Istighfar dan bertaubat

Ketahuilah jalan keluar dari itu semua adalah dengan cara memperbanyak permohonan ampun kepada Allah atas dosa-dosa kita.

Allah ta’ala berfirman,

“Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Rabb kalian, karena sesungguhnya Dia adalah Sang Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepada kalian dengan lebat. Dan memperbanyak harta dan anak-anak kalian, dan mengadakan untuk kalian kebun-kebun, serta mengadakan (pula di dalamnya) untuk kalian sungai-sungai.” (QS. Nuh:10-12)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Barangsiapa memperbanyak istighfar, niscaya Allah merubah setiap kesedihannya menjadi kegembiraan. Allah Azza wa Jalla memberikan solusi dari setiap kesempitannya (kesulitannya), dan Allah anugerahkan rizki dari jalur yang tidak disangka-sangka.” (HR. Ahmad dan al-Hakim)

Jadi istighfar adalah solusi dari permasalahan kita dan menjadi sebab datangnya kebahagiaan. Tapi perlu dipahami bahwa tidak semua istighfar bermanfaat bagi pelakunya. Istighfar yang bermanfaat yaitu istighfar/permohonan ampun yang jujur dari lubuk hati yang paling dalam dan benar-benar menyesali perbuatan dosanya.

Dengan demikian jangan bersedih apalagi putus asa. Biarlah masalah mewarnai hidup kita, bagaimanapun dan sebesar apapun itu pasti akan sirna seiring kita memohon petunjuk dan solusi kepada Allah dengan sabar dan shalat. Allah sudah  berjanji dan pasti ditepati, yakinkan diri.

Minggu, 20 Mei 2018

Balasan Cinta dari Allah

oleh: Asriana



Tidak setiap orang yang mengaku cinta kepada Allah akan bisa memperoleh cinta-Nya, kecintaan Allah tidak akan diberikan kecuali kepada insan yang benar-benar mencintai-Nya. Di antara bukti cinta kepada-Nya yaitu selalu beribadah kepada-Nya, menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup dan mengikuti petunjuk yang telah dibawa oleh kekasih-Nya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dalam segala aktivitas kehidupan.

Jika seseorang telah mencintai Allah dengan sebenar-benarnya maka balasan dari Allah akan lebih banyak, tentu saja ini akan menjadi hal terindah bukan? Apa sajakah itu? Di akhirat kelak akan dibentangkan surga yang tiada terkira kenikmatannya dan di dalam kehidupannya di dunia akan dinampakkan hal-hal berikut ini:

1. Dicintai oleh penduduk langit dan bumi
Sabda Rasulullah: “Bila Allah mencintai seorang hamba maka Dia menyeru Jibril: Sesungguhnya Allah mencintai fulan maka cintailah ia, maka Jibril pun mencintainya, lalu Jibril menyeru penduduk langit: Sesungguhnya Allah mencintai si fulan maka cintailah ia, maka merekapun mencintainya, lalu ditentukan baginya sikap menerima (dan cinta dari penduduk) dibumi”. (HR Bukhari)

2. Dijauhkan dari fitnah- fitnah dunia
Qatadah bin Nu’man berkata: “Bila Allah mencintai seseorang maka Dia menghalanginya dari (fitnah) dunia”. (HR Al-Hakim)

3. Senang untuk selalu bertaubat
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan dirinya”. (QS. Al-Baqarah: 222)

4. Senantiasa bersabar dalam menghadapi ujian dan cobaan

5. Senantiasa menjaga kesucian dirinya
… Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. Al-Baqarah: 222)

6. Adil sebagai seorang pemimpin
… sesungguhnya ALLAH menyukai orang-orang yang adil. (QS. Al-Maa’idah: 42)

7. Menjadi orang yang istiqamah dalam takwa

8. Senantiasa  menanam kebaikan

9. Selalu berserah diri kepada Allah
“Orang-orang yang bertawakal kepada Allah kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-NYA. (QS. Ali ‘Imran: 159)

10. Mengikuti apa yang dicontohkan Rasulullah

11. Tak ragu untuk berjihad fi sabilillah

12. Selalu menjaga lisannya

13. Senantiasa bermuhasabah diri dan bersyukur

14. Menjadi jiwa yang gemar bersedekah dan menafkahkan hartanya di jalan Allah

15. Menjaga tali silaturrahmi dengan sesama

16. Mencintai apa yang menjadi perintah Allah

17. Mampu menahan amarahnya

18. Selalu mengingat kematian

19. Mencintai apa yang dicintai Allah dan membenci hal yang dibenci-Nya

Semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang dicintai oleh Allah, yang dapat menikmati surga dunia dan memperoleh surga yang kekal di akhirat.


#day4
#30DWCJILID13
#squad5

Sabtu, 19 Mei 2018

Mengapa Doa Tak Kunjung Terkabul?

oleh: Asriana


Ketika hati mulai lelah berdoa sedang keinginan tak jua terwujud, kadang keraguan mulai menghampiri.
Ada banyak sebab doa tertolak, di antaranya:

*1. Makan dan Minum dari yang Haram*

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata:
“Rasulullah ï·º   menyebutkan, seorang laki-laki yang panjang perjalanannya, berambut kusut, berdebu, dan menengadahkan tangannya ke langit: “Ya Rabb .. Ya Rabb .., tetapi dia suka makan dan minum   yang haram, pakaiannya haram juga, dan dikenyangkan dengan yang haram. Maka, bagaimana doanya dapat dikabulkan?” (HR. Muslim No. 1015)

*2. Tergesa-gesa dalam Berdoa*

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu,  dia berkata: Sesungguhnya Rasulullah ï·º  bersabda, “Doa salah seorang di antara kalian pasti akan dikabulkan selama dia tidak tergesa-gesa, yaitu dia mengatakan: Saya sudah berdoa akan tetapi belum dikabulkan.” (HR. Bukhari No. 6340)
Bukan hanya itu, dia juga tidak menjaga adab-adab doa yang lainnya.

*3. Meninggalkan Kewajiban*

Dari Huzaifah Radhiallahu Anhu dari Nabi ï·º  beliau bersabda, “Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian harus betul-betul memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, kalau tidak maka betul-betul dikhawatirkan Allah akan menjatuhkan kepada kalian semua siksaan dari-Nya, kemudian kalian berdoa kepada-Nya akan tetapi Dia tidak mengabulkannya.” (HR. At Tirmidzi No. 2169: hasan)


*4. Menjalankan Larangan dan Maksiat*

Ketika mereka membutuhkan sesuatu atau dalam keadaan sulit, mereka mencari-cari Tuhannya, mereka memohon dan menangis, serta mengakui semua kesalahan dan kelemahannya. Tetapi ketika kesulitan hilang, mereka lalu melupakan-Nya dan kembali melakukan maksiat kepada-Nya. Bagaimana yang seperti ini dikabulkan doanya?

Ada jawaban sangat bagus dari Imam Ibrahim bin Adham Rahimahullah atas pertanyaan ini :

1. Seseorang yang meyakini adanya Allah ï·» tetapi ia tidak menunaikan hak-hakNya.

2. Seseorang yang telah membaca ( mengerti ) kitab Allah ï·» tetapi tidak mengamalkanya.

3. Seseorang yang mengetahui bahwa  syetan adalah musuhnya yang nyata, tetapi ia justru mengikuti langkah-langkahnya.

4. Seseorang yang mengaku mencintai  Rasulullah ï·º  tetapi meninggalkan atsar dan sunnahnya.

5. Seseorang yang mencita-citakan masuk surga namun meninggalkan amalan - amalan masuk surga.

6. Seseorang mengatakan takut adzab neraka, tetapi ia tidak berhenti melakukan dosa dan maksiat.

7. Seseorang yang yakin tentang kepastian datangnya ajal, tetapi ia tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

8. Seseorang yang sibuk dengan aib dan cacat orang lain, tetapi ia melupakan cacat dan aibnya sendiri.

9. Seseorang yang makan rezeki Allah, tetapi tidak mensyukurinya.

10.Seseorang yang mengubur orang mati, tetapi ia tidak mengambil pelajaran darinya.

*5. Allah ï·» sedang menguji hamba-Nya*

Hamba yang mukmin dan sabar akan meyakini bahwa Allah ï·» punya rencana lain untuknya, dan itu pasti lebih baik. Sebab Dia lebih tahu dibanding hamba-Nya sendiri tentang apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Atau, Allah ï·»  menundanya sebagai ujian kesabaran.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 216)





#30DWC
#30DWCJILID13
#SQUAD5



Jumat, 18 Mei 2018

Jagalah Kesehatan Hati

oleh: Asriana

Banyak manusia yang memiliki pikiran cerdas, tetapi akhirnya menjadi hina karena memiliki hati yang sakit.

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika dia baik maka baik juga seluruh jasad. Jika ia rusak maka rusak juga seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Hati yang sakit dapat dilihat dari 3 hal:

1. Kekuatan indera yang ada di dalam hati akan hilang secara total. Hati seperti akan menjadi buta, tuli, bisu, dan lumpuh. Tidak bisa membedakan antara kebenaran, kesesatan, ketakwaan, kemaksiatan, dan lain sebagainya.

2. Kekuatan indera yang ada di dalam hati menjadi lemah. Padahal sejatinya kemampuan indera tersebut kuat. Sama seperti anggota tubuh lainnya, jika sedang dalam keadaan seperti ini, hati berarti butuh asupan gizi.

3. Hati tidak dapat melihat sesuatu dalam bentuk yang sebenarnya. Seperti memandang kebenaran menjadi kesesatan, kesesatan menjadi kebenaran, merasakan manis menjadi pahit, dan pahit menjadi manis.

Ibnu Qayyim menjelaskan, agar hati bisa tetap sehat, ia bisa dilakukan dengan tiga cara; menjaga kekuatan hati, melindungi hati dari hal-hal yang membahayakan, dan membuang zat-zat yang berbahaya bagi hati. Kekuatan hati bisa diperoleh dengan iman. Iman merupakan sumber kekuatan hati yang paling utama. Jika iman hilang, hati akan menjadi sakit.
Sedangkan untuk melindungi hati dari hal-hal yang membahayakan, dapat dilakukan dengan menjauhkan diri dari perbuatan dosa atau maksiat. Sebab, kedua hal ini yang dapat membuat hati menjadi sakit.

Racun dan zat-zat yang membahayakan hati harus dibuang, taubat dan istighfar adalah dua obat yang dapat membuang toksin di dalam hati. Antibody yang dapat menjaga kesehatan hati.

Mari Bermujahadah



Mari Bermujahadah
oleh: Asriana⭐

Betapa besarnya kewajiban setiap manusia, yang di dalamnya termasuk pula Nabi Muhammad SAW untuk memaha agungkan, memaha besarkan-Nya serta senantiasa mensyukuri semua kenikmatan-Nya.

Oleh sebab apa yang dilakukan oleh manusia, bagaimanapun juga besar dan tingginya nilai apa yang kita amalkan, masih belum memadai sekiranya dibandingkan dengan kenikmatan yang dilimpahkan oleh-Nya kepada manusia.

Maka dari itu hak-hak Allah yang wajib kita penuhi sebagai imbalan karunia-Nya itu, masih belum sesuai dengan amalan baik yang kita lakukan, sekalipun dalam anggapan kita sudah amat banyak sekali.

Betapa lemahnya kita, maka memerlukan adanya pengampunan sekalipun kita tiada punya dosa lagi, sebagaimana halnya Rasulullah Muhammad serta sekalian para nabi-Nya 'alaihimus shalatu wassalam itu, mereka dijamin masuk surga namun tetap bersungguh-sungguh beribadah.

Dari Aisyah radhiallahu 'anha bahwasanya Rasulullah SAW berdiri untuk beribadah dari sebahagian waktu malam sehingga pecah-pecahlah kedua tapak kakinya. Saya (Aisyah) lalu berkata padanya: "Mengapa Tuan berbuat hal seperti itu wahai Rasulullah, sedangkan Allah telah mengampuni untuk Tuan dosa-dosa Tuan yang telah berlalu dan yang akan datang?"
Rasulullah SAW bersabda:
"Adakah aku tidak senang untuk menjadi seorang hamba yang banyak bersyukurnya?" (Muttafaq 'alaih)

Rasulullah SAW juga semua nabyiullah 'alaihimus shalatu wassalam itu adalah terpelihara dan terjaga dari semua kemaksiatan dan dengan sendirinya tidak ada dosanya sama sekali (ma'shum minadz-dzunub).

Hendaknya kita bermujahadah, bersungguh-sungguh dalam beribadah.

Syukur harus diwujudkan dengan amal sebagaimana diucapkan oleh lisan.

Minggu, 06 Mei 2018

Lagi-lagi Tentang Cinta (Lanjutan)

***

Asa yang Pupus


Penyesalan dan kekecewaan yang menjadi suguhan pertama bagi para penikmat cinta buta jika kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasi, yang paling parah jika menyebabkan depresi, para penikmat cinta buta akan disuguhi kegalauan hati yang akan mengoyak sendi-sendi kehidupannya, luka akan tertoreh di jiwa karena asa yang pupus diterbangkan debu.
Ada 9 penyakit yang mengancam kesehatan tubuh dan jiwa yang terkait dengan depresi yang menyerang para penikmat cinta buta :
1. Insomnia
Saat seseorang sedang mengalami patah hati, putus cinta, kehilangan sesuatu atau seseorang yang sangat dicintai maka pikirannya lebih sibuk dan kalut, sehingga tubuh jadi lebih cemas tanpa kita sadari. Awas, Anda bisa terlalu banyak berpikir hingga malam tiba dan membuat Anda susah terlelap di malam hari.
2. Masalah Pencernaan
Stres atau depresi paling bisa mempengaruhi kondisi tubuh Anda, terutama masalah pencernaan. Karena Anda tidak berhenti bersedih, kortisol mengacaukan indeks glikemik dan membuat nafsu makan menurun. Ini akan beresiko timbulnya sakit lambung hingga diare parah.
3. Kelelahan
Dalam kondisi pikiran yang kurang bahagia, membuat kita seringkali lebih lemah dari biasanya. Mau melakukan apapun tidak semangat. Atau, tenaga yang dimiliki tak berimbang dengan aktivitas impulsif yang dilakukan untuk pelampiasan.
4. Sakit Kepala
Ada kalanya kita terlalu tegang memikirkan sesuatu sehingga kepala menjadi pening. Begitupula ketika kita sedih atau terlalu marah apalagi depresi. Sakit kepala juga bisa disebabkan karena kita kurang nafsu makan, sesuai yang dijelaskan di poin 2.
5. Kerusakan Memori
Depresi mempengaruhi sistem kognitif seseorang. Saking depresinya, mereka bisa bertindak di luar kesadaran. Misalnya bekerja habis-habisan, sering lupa dan sering tidak konsentrasi.
6. Goncangan Jiwa
Yang namanya putus cinta, patah hati atau kehilangan sesuatu atau seseorang yang sangat dicintai akan menjadi pukulan berat. Oleh karena itu dapat mengalami goncangan jiwa, menjadi cepat marah, mudah menangis, bahkan tendensi untuk bunuh diri. Bila Anda rentan pada hal seperti ini, pastikan Anda dekat dengan seseorang yang bisa menemani sehingga tidak kacau saat sendirian.
7. Degup Jantung Tak Beraturan
Depresi akibat putus cinta dapat menyebabkan masalah pada jantung. Mulai dari degup jantung tidak beraturan hingga sakit jantung serius. Latihan relaksasi dapat membantu mengatasi berbagai masalah yang membuat jantung lebih stabil.
8. Anorexia
Penyakit ini sesungguhnya berhubungan dengan mindset. Biasanya karena tidak percaya diri pada penampilan dan berpikiran bahwa putus karena ada orang lain yang lebih cantik atau lebih tampan ataupun karena menganggap bahwa harta, posisi atau jabatannya hilang akibat perbuatan orang lain.
9. Semakin memudarnya iman di hati
         Seringnya diri terhiasi oleh maksiat menyebabkan cahaya iman di hati semakin memudar dan dapat membuat hati menjadi mati.
Penyakit-penyakit di atas akan menimpa para penikmat cinta buta jika ending dari kisah pacarannya tidak sesuai dengan ekspektasinya yang begitu tinggi, atau jika kenikmatan dunia yang sedang digenggamnya tiba-tiba hilang tidak tersisa, karena jiwa mereka kosong, jauh dari cinta kepada Allah SWT. Depresi dengan berbagai rangkaiannya menghampiri dan menggerogoti hati mereka yang gersang.
Jiwa dan hati yang terisi oleh cinta kepada Allah SWT akan menuntun pemilik jiwa dan hati untuk selalu dalam kepatuhan dan ketaatan kepada Allah SWT, cinta kepada Allah SWT juga akan menjaga jiwa dan hati dari perbuatan-perbuatan yang melanggar aturanNya, yang dapat mendatangkan murka Allah SWT, seperti berpacaran atau cinta terhadap kenikmatan  dunia lainnya.

"Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur.
Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. Al Hadid, 57:20) ."

           Tidak ada cinta yang dilandasi oleh nafsu semata yang akan membawa kepada kebahagiaan, jika tidak menghadirkan cinta kepada Allah sebagai tujuannya. Lalu mengapa banyak wanita dan pria muslim yang berpacaran dan mengumbar kemesraan dengan bebas, lalu menikah dan hidup bahagia ? Kebahagiaan tidak hanya diukur dari sisi kenikmatan dunia, namun kebahagiaan diukur dengan dimensi akhirat yang nilainya melebihi kenikmatan dunia karena keridhaan Allah SWT menyertainya.

*******

Dahsyatnya Cinta Kedua


          Sebuah tulisan dari bunda Rochma Yulika, penulis sekaligus penda'wah yang sungguh menyejukkan :

Oase Dakwah Penyejuk Hati Penggugah Jiwa

Menjaga Cinta Agar Selamat
Oleh: Rochma Yulika

Cinta kita cinta yang sehat
Cinta kita cinta yang taat
Cinta kita dilandasi syari’at
Bukan dipenuhi syahwat
Apalagi diiringi maksiat

Menabur cinta agar diri raih bahagia
Lantaran cinta mengajarkan untuk saling mengerti
Saling memahami dan saling memotivasi
Cinta mengajarkan bagaimana hidup untuk berbuat kebaikan
Bukan mengajarkan untuk berbuat keburukan
Cinta mengajarkan bagaimana hidup dalam bingkai kasih sayang
Bukan permusuhan dan perselisihan

Jangan salah memaknai cinta
Agar rasa yang ada hadirkan makna
Agar hidup menjadi bahagia
Senyum ceria makin mempesona
Menjadi pasangan di dunia dan di surga

Indah memang...
Bila rumah tangga berbingkai cinta karena Ilahi
Wajah nampak berseri
Setiap percakapan penuh arti
Bahkan sikap dan perilaku selalu memesona hati

Indah nian bila cinta didasari dengan keimanan
Akhlak terpuji menjadi pakaian
Amalan pun terjaga dalam keseharian
Setiap waktu berlalu dalam kewaspadaan

Bila ada yang salah bukan dihakimi tapi dinasihati
Ada yang kurang santun yang lain pun menuntun

Ajaran manakah dari Islam yang tak menghadirkan kenyamanan bila semua bersandar pada Allah SWT?

Tidak ada istilah pacaran yang sehat, LDR dan lain-lain, hati-hati "VMJ" (Virus Merah Jambu) menyerang. Ingatlah kaidah cinta "lepaskan atau halalkan." Begitulah kaidah cinta seorang muslim yang menghormati kesucian cinta. Dalam hal cinta, Islam tegas dan tidak kenal basa-basi. Jadi katakan tidak untuk pacaran.
Cara yang diajarkan dalam Islam untuk menghindarkan diri terjatuh ke dalam jeratan nafsu yang mengarah ke perbuatan zina misalnya berpacaran, yaitu :
1. Menikah
Dalam sebuah hadits,
"Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kamu telah mampu "ba'ah", maka menikahlah, karena menikah itu dapat menjaga pandangan dan melindungi kemaluan. Jika belum mampu, maka berpuasalah, karena puasa itu adalah perisai baginya" (HR. Bukhari dan Muslim)

Kata  Ba'ah sengaja diberi tanda kutip sebab bnyk yg salah faham tentang kata ba'ah ini. Ada 2 definisi ba'ah menurut Syaikh Asy Syaukani :

1. Mampu dlam hal materi,
2. Mampu dlm (maaf) jima'

Jadi bilamana dari kedua hal itu,  jika telah mampu maka sebaiknya menikahlah...

Karena itu pria yang shalih dan wanita yang shalihah tidak akan pacaran, lebih baik mendapat predikat "josh" yaitu jomblo sampai halal atau "jofisa" yaitu jomblo fii sabilillah (di jalan Allah) dan berpuasa jika memang belum mampu menikah.

2. Jaga (tundukkan) pandangan

Allah SWT berfirman yang artinya :

"Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya," (QS. An-Nur : 31)

Ayat sebelumnya memerintahkan hal yang sama kepada pria.

3. Jauhi menyentuh / berjabat tangan dengan non mahram
Karena getaran listrik saja tidak dapat berpindah jika tidak ada perantaranya, nah cinta ini diibaratkan listrik, maka konduktor yang paling baik adalah sentuhan atau berjabat tangan
Awas kesetrum ya...

“Andaikata kepala salah seorang dari kalian DITUSUK dengan jarum besi, itu lebih baik baginya daripada menyentuh (baik dengan rabaan atau salaman) wanita yang tidak halal baginya.”_ (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)

Lebih tegas lagi, Rasulullah SAW bersabda,

“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu, kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim)


Jadi awalnya melihat...
Mendengar...
Menyentuh...
Hingga akhirnya zina dengan kemaluan...

Na'udzu billah...

 4. Menjauhi dan meninggalkan tabarruj
Simpelnya, tabarruj adalah menampakkan kecantikan hingga membuka aurat di depan non mahram.
Dandan sih sah sah saja tapi jika niatnya malah pengen dilirik, hmm...

“Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.” (HR. An Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad)

5. Jauhi khalwat alias suka berduaan

“Sungguh tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita, kecuali yang ketiga dari keduanya adalah setan.” (HR. Tirmidzi)

Karena setan itu tidak mungkin mengajak ke yang baik, mencari celah untuk menjerumuskan ke lubang maksiat yang hina.
Jika belum baik, mari terus memperbaiki diri. Daripada pacaran menambah ladang dosa bagi diri dan orang tua.
Begitupula dengan cinta terhadap kenikmatan dunia yang lain, jika telah terjatuh ke dalam jebakannya maka kehidupan kita akan dikendalikannya, dapat memalingkan hati dan jiwa dari ketaatan kepada Allah SWT, dapat mengikis rasa cinta kepada Allah SWT. Maka berhati-hatilah  akan kenikmatan dunia yang dapat mengalihkan diri dari ketaatan dan rasa cinta kepada Allah SWT agar tidak terjatuh dalam kehancuran.
Tingkatkan kedekatan kepada Allah SWT dengan senantiasa berbuat kebaikan, menambah ketaatan kepadaNya dan berusaha maksimal menjauhi segala laranganNya.
Jadi, terus perbaharui iman agar cinta kepada Allah SWT senantiasa tumbuh karena lemah iman maka lemah pula cinta terhadap Allah SWT.
Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW bersabda :
“Engkau mempunyai amal yang bersemangat, dan setiap semangat mempunyai kelemahan. Barangsiapa yang kelemahannya tertuju pada sunnahku, maka dia telah beruntung. Dan, siapa yang kelemahannya tertuju kepada selain itu, maka dia telah binasa.” (HR.Ahmad)
Kondisi iman kita saling tegak lurus dengan keadaan hati kita. Sesuai dengan namanya, hati dalam bahasa Arab qalban selalu berubah-ubah (at taqallub) dengan cepat.
Rasulullah SAW bersabda,
“Dinamakan hati karena perubahannya. Sesungguhnya hati itu ialah laksana bulu yang menempel di pangkal pohon yang diubah oleh hembusan angin secara terbalik.” (Ahmad dalam Shahihul Jami’ no. 2365).

Berikut ini sepuluh nasihat Ibnul Qayyim rahimahullah untuk menggapai kesabaran diri agar tidak terjerumus dalam perbuatan maksiat yang dapat mendatangkan murka Allah :
Pertama, hendaknya hamba menyadari betapa buruk, hina dan rendah perbuatan maksiat. Dan hendaknya memahami bahwa Allah SWT mengharamkannya serta melarangnya dalam rangka menjaga hamba dari terjerumus dalam perkara-perkara yang keji dan rendah sebagaimana penjagaan seorang ayah yang sangat sayang kepada anaknya demi menjaga anaknya agar tidak terkena sesuatu yang membahayakannya.
Kedua, merasa malu kepada Allah SWT..Karena sesungguhnya apabila seorang hamba menyadari pandangan Allah SWT yang selalu mengawasi dirinya dan menyadari betapa tinggi kedudukan Allah SWT. Dan apabila dia menyadari bahwa perbuatannya dilihat dan didengar Allah SWT tentu saja dia akan merasa malu apabila dia melakukan hal-hal yang dapat membuat murka Rabbnya… Rasa malu itu akan menyebabkan terbukanya mata hati yang akan membuat Anda bisa melihat seolah-olah Anda sedang berada di hadapan Allah SWT.
          Ketiga, senantiasa menjaga nikmat Allah SWT yang dilimpahkan kepadamu dan mengingat-ingat perbuatan baikNya.
Apabila engkau berlimpah nikmat maka jagalah, karena maksiat akan membuat nikmat hilang dan lenyap. Barangsiapa yang tidak mau bersyukur dengan nikmat yang diberikan Allah SWT kepadanya maka dia akan disiksa dengan nikmat itu sendiri.
Keempat, senantiasa merasa takut kepada Allah SWT dan khawatir tertimpa hukumanNya.
Kelima, mencintai Allah SWT… karena seorang kekasih tentu akan menaati sosok yang dikasihinya. Sesungguhnya maksiat itu muncul diakibatkan oleh lemahnya rasa cinta.
Keenam, menjaga kemuliaan dan kesucian diri serta memelihara kehormatan dan kebaikannya… Sebab perkara-perkara inilah yang akan bisa membuat diri merasa mulia dan rela meninggalkan berbagai perbuatan maksiat.
Ketujuh, memiliki kekuatan ilmu tentang betapa buruknya dampak perbuatan maksiat serta jeleknya akibat yang ditimbulkannya, juga bahaya yang timbul sesudahnya yaitu berupa muramnya wajah, kegelapan hati, sempitnya hati dan gundah gulana yang menyelimuti diri karena dosa-dosa itu akan membuat hati menjadi mati.
Kedelapan, memupus buaian angan-angan yang tidak berguna. Hendaknya setiap insan menyadari bahwa dia tidak akan tinggal selamanya di dunia, mestinya dia sadar kalau dirinya hanya tamu yang singgah di sana, akan segera berpindah dari dunia sehingga tidak ada sesuatu pun yang akan mendorong dirinya untuk menambah tanggungan dosanya, karena dosa-dosa itu jelas akan membahayakan dirinya dan sama sekali tidak akan memberikan manfaat apa-apa.
Kesembilan, hendaknya menjauhi sikap berlebihan dalam hal makan, minum dan berpakaian. Karena sesungguhnya besarnya dorongan untuk berbuat maksiat hanyalah muncul dari akibat berlebihan dalam perkara-perkara tadi. Dan di antara sebab terbesar yang menimbulkan bahaya bagi diri seorang hamba adalah waktu senggang dan lapang yang dia miliki karena jiwa manusia tidak akan pernah mau duduk diam tanpa kegiatan, apabila dia tidak disibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat maka tentulah dia akan disibukkan dengan hal-hal yang berbahaya.
Kesepuluh, sebab terakhir adalah sebab yang merangkum sebab-sebab di atas… yaitu kekokohan pohon keimanan yang tertanam kuat di dalam hati. Maka kesabaran hamba untuk menahan diri dari perbuatan maksiat itu sangat tergantung dengan kekuatan imannya. Setiap kali imannya kokoh maka kesabarannya pun akan kuat dan apabila imannya melemah maka sabarnya pun melemah…
Dan barang siapa yang menyangka bahwa dia akan sanggup meninggalkan berbagai macam penyimpangan dan perbuatan maksiat tanpa dibekali keimanan yang kokoh maka sungguh dia telah keliru.
         Allah memerintahkan Rasulullah SAW untuk mengambil satu syariat dan manhaj:
“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (Al-Jatsiyah: 18)

Sayyid Quthub berkata dalam tafsirnya, Fii Zhilaalil Qur'an:
“Pilihan itu hanya ada dua, syariat Allah SWT atau mengikuti keinginan orang-orang jahil. Tidak ada pilihan ketiga, jalan tengah antara syariat yang lurus dan keinginan hawa nafsu yang berubah. Seseorang yang meninggalkan syariat Allah berarti telah berhukum kepada keinginan nafsunya. Segala sesuatu selain syariat Allah adalah keinginan hawa nafsu yang disukai oleh orang yang jahil.”

         Syariat hanyalah satu, yaitu syariat Allah SWT dan selain itu hanyalah keinginan hawa nafsu yang bersumber dari kejahilan.
Perintah Allah kepada orang-orang beriman :   
 “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (Al-Baqarah: 208)

         Dengan demikian, seorang muslim perlu mengetahui dasar sikapnya, tidak plin-plan, bimbang dan ragu-ragu dalam memilih satu jalan dari berbagai jalan dan bermacam orientasi hidup. Tidak ada manhaj alternatif bagi orang beriman atau pilihan untuk meramu manhaj Islam dengan manhaj lain. Tidak akan ada. Barang siapa yang tidak masuk Islam secara keseluruhan, berarti ia tidak menyerahkan dirinya secara ikhlas kepada pimpinan Allah dan syariatnya. Selain itu ia juga tidak membebaskan diri dari tashawwur, konsep, manhaj dan syariat yang lain. Maka sesungguhnya ia berada di jalan setan dan mengikuti jejak  langkah setan.
Namun bagaimana jika terlanjur terjerumus ke dalam jeratan setan ? Manusia bukan ciptaan yang sempurna, banyak keterbatasan dan kelemahan yang ada pada diri manusia. Kelemahan manusia ini dapat mengantarkannya ke hal-hal yang negatif dan tidak bermanfaat bahkan berbahaya kepada dirinya dan orang lain.
Seorang muslim, akan menjadi sasaran empuk godaan setan jika landasan imannya tidak kokoh atau bahkan rapuh, setan dengan mudah menutup mata hatinya dengan segala hal yang indah namun menyesatkan, menciptakan fatamorgana yang akan berakhir dengan kekecewaan dan penyesalan.
Jika terlanjur terseret ke dalam jebakan setan, terjerumus ke dalam kubangan maksiat dan belenggu hawa nafsu seperti yang dibahas pada bab sebelumnya, terjerumus ke dalam godaan cinta buta terhadap sesama manusia dan cinta terhadap kesenangan duniawi, seorang muslim tidak serta merta akan berada dalam lingkaran dosa itu selamanya jika bersungguh-sungguh ingin meninggalkannya meski termasuk ke dalam golongan dosa besar.
Hidayah adalah hak prerogatif Allah SWT, tidak ada seorang hamba yang dapat mengatur Allah SWT untuk memberikan hidayah kepada orang yang dikehendakinya, sebuah kisah yang terkait dengan hidayah berikut ini semoga dapat menjadi pelajaran dan pengingat bagi kita semua.

HAFAlquran 30 JUZ DAN HADlTS TAK MENJAMIN KITA MASUK SURGA
Kisah nyata ini di tuturkan Habib Quraisy bin Qosim Baharun, Cirebon, dr kisah perjalanannya th 1996. Kala itu pesawat melintasi daratan Afrika. Diantara penumpangnya Habib Quraisy dan ibu Tua sekitar 65-70 tahun berpenutup jilbab di sebelahnya. “Dimana asal Anda?” Tanyanya. Tahu Habib Quraisy orang Indonesia, dia mengajaknya berbahasa Indonesia dan amat fasih pula. Ibu Tua itu tersenyum bijak sambil berkata “Saya ‘Alhamdulillah’ menguasai sebelas bahasa dan 20 bahasa daerah”.
Ibu Tua mulai mengupas pembahasan Al Qur’an dg indah dan mahir.
Habib pun penasaran atas kehebatannya menjelaskan Al Qur’an, “Apakah Ibunda hafal Alquran?”
Beliau jawab “Ya, saya telah menghafal Alquran dan saya rasa tidak cukup hanya menghafal Alquran sehingga saya berusaha menghapal Tafsir Jalalain dan saya pun hafal”.
Tidak sampai disitu saja, ibu tua itu melanjutkan bicaranya “Namun Alquran harus bergandengan dengan hadist. Sehingga saya kemudian berupaya lagi menghafal hadist tentang hukum sehingga saya hafal kitab hadist Bulughul Marom di luar kepala”.
“Lantas saya masih belum merasa cukup, karena di dalam Islam bukan hanya ada halal dan haram tapi harus ada fadhailul amal, maka saya pilih kitab Riyadhus Sholihin untuk saya hafal dan saya hafal”. Kata Ibu itu menuturkan pendalamannya tentang Islam kepada Habib Quraisy.
Ibu itu kembali bertutur “Di sisi agama ada namanya tasawuf, maka saya cenderung pada tasawuf sehingga saya pilih kitab Ihya Ulumuddin dan sampai saat ini saya sudah 50 kali mengkhatamkan membacanya.
Saking seringnya saya baca Ihya Ulumuddin sampai-sampai Bab Ajaibul Qulub saya hafal di luar kepala”.
Habib Quraisy terperangah melihat kehebatan dan luarbiasanya Ibu itu. Namun karena tidak percaya begitu saja, Habib pun akhirnya mencoba test kebenaran perkataannya. Apakah benar Ia telah hafal Al Qur’an? Apakah benar Ia menguasai Tafsir Jalalain ttg asbabun-nuzul dan qaul Ibnu Abbas? Setelah melalui beberapa pertanyaan. Ternyata benar Ibu itu hafal Qur’an bahkan mampu menjawab tafsirnya dengan mahir dan piawai.
Ketika Habib mengangkat permasalahan ihya mawat yang ada dalam kitab Bulughul Maram Ibu Tua itu pun menjabarkannya cukup jelas.
Ketika Habib membahas tentang hadist Riyadhus Sholihin maka Ibu Tua itu menyebutkan sesuai apa yang disebutkan dalam kitab Dalailul Falihin sebagai syarah kitab hadist tsb.
Dan lagi Ia menjelaskan masalah psikologi hati berbasis kitab Ihya Ulumuddin pada pasal ajaibul qulub. Kembali Habib dibuat heran akan kehebatan Ibu Tua itu dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Pesawat akan mendarat di Airport. Ibu itu mengambil tasnya yang ada di kabin. Kerana sudah merasa kenal, Habib membantu menurunkan 3 tasnya ke lantai pesawat. Subhanallah… Saat ibu itu menunduk untuk mengambil tasnya ternyata keluar dari balik jilbabnya seutas kalung salib.
Seperti petir menyambar di siang bolong, Habib Quraisy menunduk lemah. Ibu itu tersenyum,  “Akan kujelaskan padamu nanti di hotel.”
Habib akan transit selama sehari semalam, pun Ibu Tua itu. Maka di ruang tunggu dia tunjukkan nomor kamarnya kepada Habib dan berjanji bertemu di ruang lobbi restaurant.
Keduanya akhirnya bertemu. Kpada Habib Qurasy ia mengatakan, “Saya bukan orang Kristen, mengapa saya keluar dari Kristen ?… karena saya menganggap Kristen itu hanya dongeng belaka. Dan kalung ini bukan berarti saya Kristen, tapi kalung ini pemberian almarhumah ibu saya”.
Ia mengatakan bahwa Ia telah mempelajari Kristen, Hindu juga Islam. Ia mengungkap ketertarikannya mengenai keagungan yang ada di balik wahyu Allah SWT dan hadits Nabi Muhammad SAW.
“Ibu apa agamanya sekarang ?” Habib bertanya.
Dia katakan “Saya tidak beragama”
“Andai Ibu masuk Islam, begitu baca syahadat, ibu akan langsung dapat titel ulama”. Karena demikian luas ilmu yang dimiliki kata Habib.
Ia menjawab, 
“MUNGKIN KARENA SAYA BELUM MENDAPAT HIDAYAH DARI ALLAH”

Habib Quraisy meneteskan airmata bersyukur kepada Allah SWT, bagaimana orang seperti dia yang sudah hafal Al Qur’an dan lain sebagainya belum Allah SWT izinkan untuk beriman kepadaNya.
Sementara kita tanpa usaha apapun, telah dipilih oleh Allah SWT untuk menjadi seorang muslim. Demikianlah kisah ajaib ini. Semoga dapat diambil iktibar betapa bersyukur kita dianugrahi iman dan semakin bertambah kuat sampai ajal menjemput, sehingga kita termasuk orang yang husnul khotimah.
Ibu tua itu bernama ANN MARIE SCHIMMEL, ahli terkemuka dalam literatur Islam dan mistisisme (tasawuf), berkebangsaan Jerman, sebagai professor mengajar di 3 Universitas terkenal di 3 negara berbeda, dikenal memiliki ingatan fotografis. Wafat tahun 2003 di usia 80 thn, entah bagaimana tentang keimanannya di akhir hidupnya. Ada yang tahu??

SEORANG HAMBA MASUK SURGA KARENA RAHMATNYA
Tidaklah cukup hafal Alquran dan hadits (https://g.co/kgs/9KmwUS).

Namun Allah SWT benar-benar Maha Pengampun dan Maha Penyayang, termasuk kepada orang-orang yang selalu bergelut dengan maksiat, hidayah dari Allah SWT banyak menghampiri para pelaku maksiat dan mengantarkan mereka menuju pribadi yang lebih baik, muslim yang taat.
Betapa dahsyatnya cinta Allah SWT, mampu menyentuh hati orang-orang yang selama ini mengeras akibat tertempa oleh maksiat. Cinta Allah SWT mampu mengalahkan rasa cinta manusia kepada kesenangan yang berorientasi duniawi, cinta pertama yang sesungguhnya hanya sekejap lalu sirna.
Jika orang-orang yang mendapat isyarat cinta dari Allah SWT ini ingin semakin dicintai oleh Allah SWT sehingga hatinya pun terisi oleh rasa cinta kepada Allah SWT dan ingin benar-benar melepaskan diri dari bayang-bayang cinta pertamanya yaitu cinta kepada kesenangan dunia maka harus menjalani pengobatan hati.
Ada 2 bentuk pengobatan hati yang harus dijalani jika seorang muslim ingin lepas dari belenggu maksiat dan dosa akibat dari perbuatan-perbuatan maksiat seperti yang dikemukakan di atas yaitu :
Bersegera bertaubat (memohon ampunan Allah SWT) dan melaksanakan segala rangkaiannya.

Hijrah
Berikut ini penjabaran dari kedua kelompok pengobatan di atas :
1. Bersegera bertaubat (memohon ampunan Allah SWT) dan melaksanakan segala rangkaiannya.
Firman Allah SWT yang artinya :
“Katakanlah : “Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepadaNya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar : 53-54).

Ayat diatas menjelaskan Allah SWT akan mengampuni dosa-dosa semua hambaNya. Allah SWT Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, hanya Allah SWT tempat berserah diri, memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukan baik yang disengaja maupun tidak disengaja, sebesar debu hingga dosa seluas lautan.
         Setiap manusia berkewajiban untuk bertaubat kepada Allah SWT. Jangan setengah-setengah atau main-main dalam bertaubat, lakukanlah dengan kesungguhan serta keikhlasan hati. Berikut rangkaian taubat yang harus dijalani :

1. Niat bertaubat dengan sepenuh hati, yang dimaksud di sini adalah taubat nasuha atau taubat yang sungguh-sungguh, bukan taubat beberapa saat lalu mengulangi berbuat dosa.
 Firman Allah SWT yang artinya :
“Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah SWT menerima taubat dari hamba-hamba-Nya?” (QS. At Taubah: 104).
Sudah kewajiban untuk bertaubat memohon ampunan Allah SWT dengan taubat nasuha jika berbuat dosa. Dari arti ayat di atas bahwa Allah SWT menerima taubat hamba-hambaNya. Allah SWT akan membukakan pintu maaf bagi setiap hamba yang bersungguh-sungguh memohon ampun kepadaNya.

2. Menyesal
Firman Allah SWT yang artinya :
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah SWT, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nisa’: 110).

Selain memohon ampun dengan penuh kesungguhan, seorang hamba yang ingin dosanya terhapus dan dimaafkan oleh Allah SWT, memiliki rasa penyesalan dalam hati atas perbuatan maksiat tersebut.
3. Tidak berbuat maksiat lagi
Firman Allah SWT yang artinya :
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.” (QS. An Nisa’: 145-146).

Sudah kewajiban bagi setiap orang yang bersungguh-sungguh bertaubat kepada Allah SWT tidak lagi mengulangi perbuatan maksiat yang pernah dilakukannya dan senantiasa selalu membentengi diri dari perbuatan-perbuatan maksiat dengan memohon perlindungan dari Allah SWT.
Allah SWT sangat menyayangi hamba-hambaNya dan menerima taubat hambaNya yang bersungguh-sungguh. Bersegeralah bertaubat, jangan menunda-nunda untuk bertaubat dan jangan pernah berputus asa.
Firman Allah SWT yang artinya :
“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepadaNya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54).

                Berdasarkan firman Allah SWT dalam surah An Nisaa’ ayat 48 dan 116:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya…."

Berkaitan dengan penjelasan ayat di atas, Syaikh Abdur-Rahman bin Nashir as-Sa’di dalam tafsirnya (1/426) berkata: “(Dalam ayat ini) Allah mengabarkan kepada kita, orang yang berbuat syirik kepadaNya (menyekutukanNya dengan sesuatu yang lain dari makhluknya dalam beribadah) tidak akan diampuni oleh-Nya (Maksudnya, selama pelaku perbuatan syirik itu belum atau tidak bertaubat hingga ia meninggal dunia. Adapun jika ia bertaubat dari syirik sebelum meninggal dunia, maka Allah pun akan mengampuni dosanya. Lihat Tafsir as-Sa’di, 1/426).

Dan Allah akan mengampuni dosa-dosa lainnya selain syirik, baik itu dosa besar ataupun dosa kecil. Itupun bila Allah SWT menghendakinya”(Tafsir as-Sa’di, 1/425-426).
Penjelasan di atas pun berlaku jika si pelaku dosa maksiat tersebut tidak istihlal (yakni tidak menganggap perbuatan yang haram tersebut boleh atau halal dilakukan). Karena orang yang melakukan perbuatan haram (maksiat) dengan berkeyakinan bahwa perbuatan tersebut merupakan perbuatan yang boleh dan halal dilakukan maka orang ini kafir berdasarkan kesepakatan para ulama.
Allah SWT sangat gembira dengan taubat hamba-Nya, bahkan kegembiraan Allah SWT terhadap taubat seorang hambaNya melebihi kegembiraan orang yang menjumpai barang-barangnya kembali yang telah hilang lenyap darinya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
"Sungguh Allah lebih bergembira dengan taubat salah seorang dari kalian, melebihi kegembiraan salah seorang dari kalian terhadap barang-barangnya yang hilang ketika ia mendapatkannya kembali." (HR Muslim, 4/2102 no. 2675, dan lain-lain).

                Maka bersegeralah bertaubat jika telah berbuat maksiat, rasakan dahsyatnya cinta Allah SWT jika telah melewati fase ini dengan kesungguhan dan keikhlasan, setelahnya akan tumbuh rasa cinta kepada Allah SWT yang jauh lebih baik daripada cinta kepada kesenangan dunia karena cinta kepada Allah SWT akan memberikan kebahagiaan di dunia dan akhirat.