oleh: Asriana
Nafas kehidupan kita adalah derap-derap langkah menuju kematian, jika kaki ini telah sampai di garis finish maka itulah isyarat kontrak kerja kita berakhir.
Maka cerdasnya orang beriman adalah mengisi masa kontraknya dengan visi dan misi akhirat, bukan dengan memburu dunia.
Kelezatan dunia bak candu, jika hati tak berperisai iman yang kokoh, bukan tak mungkin kita akan tenggelam di dasarnya.
Kita akan terlena jika keindahan dunia menjadi penuntun jiwa, lukisannya menyilaukan mata manusia yang menatapnya dengan nafsu.
Sejatinya kita menjadi manusia-manusia langit, yang akhiratnya terpatri di hati meski dunia dalam genggaman, tak tergoda oleh manisnya hidup yang sesaat, agar di dunia kita tak terhempas sehingga asa meraih surga pun kandas.
Seperti ungkapan Ibnul Qayyim rahimahullah, “Jika hanya Allah yang kamu tuju, maka kemuliaan akan datang dan mendekat kepadamu, serta segala keutamaan akan menghampirimu. Kemuliaan sifatnya mengikuti. Artinya, jika kamu menuju Allah, kemuliaan akan mengikutimu. Tapi jika kamu hanya mencari kemuliaan, Allah akan meninggalkanmu. Jika kamu telah menuju Allah kemudian tergoda untuk mencari kemuliaan selain bersama Allah, maka Allah dan kemuliaan-Nya akan pergi meninggalkanmu.”
Jika membawa dunia dalam jiwa kita, hidup tak akan dinaungi keberkahan.
Maka jaga iman agar tetap hidup, genggam erat agar dia tak pergi.
Karena iman yang menuntun ke jalan keselamatan, menapaki dunia yang penuh jebakan.
Ada surga di hati orang beriman, surga yang membuatnya bahagia di tengah pahit getirnya kehidupan. Kebahagiaannya hanya dari Rabbnya bukan di tangan manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar