Lagi-lagi Tentang Cinta (Lanjutan)
***
Asa yang Pupus
Penyesalan dan kekecewaan yang menjadi suguhan pertama bagi para penikmat cinta buta jika kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasi, yang paling parah jika menyebabkan depresi, para penikmat cinta buta akan disuguhi kegalauan hati yang akan mengoyak sendi-sendi kehidupannya, luka akan tertoreh di jiwa karena asa yang pupus diterbangkan debu.
Ada 9 penyakit yang mengancam kesehatan tubuh dan jiwa yang terkait dengan depresi yang menyerang para penikmat cinta buta :
1. Insomnia
Saat seseorang sedang mengalami patah hati, putus cinta, kehilangan sesuatu atau seseorang yang sangat dicintai maka pikirannya lebih sibuk dan kalut, sehingga tubuh jadi lebih cemas tanpa kita sadari. Awas, Anda bisa terlalu banyak berpikir hingga malam tiba dan membuat Anda susah terlelap di malam hari.
2. Masalah Pencernaan
Stres atau depresi paling bisa mempengaruhi kondisi tubuh Anda, terutama masalah pencernaan. Karena Anda tidak berhenti bersedih, kortisol mengacaukan indeks glikemik dan membuat nafsu makan menurun. Ini akan beresiko timbulnya sakit lambung hingga diare parah.
3. Kelelahan
Dalam kondisi pikiran yang kurang bahagia, membuat kita seringkali lebih lemah dari biasanya. Mau melakukan apapun tidak semangat. Atau, tenaga yang dimiliki tak berimbang dengan aktivitas impulsif yang dilakukan untuk pelampiasan.
4. Sakit Kepala
Ada kalanya kita terlalu tegang memikirkan sesuatu sehingga kepala menjadi pening. Begitupula ketika kita sedih atau terlalu marah apalagi depresi. Sakit kepala juga bisa disebabkan karena kita kurang nafsu makan, sesuai yang dijelaskan di poin 2.
5. Kerusakan Memori
Depresi mempengaruhi sistem kognitif seseorang. Saking depresinya, mereka bisa bertindak di luar kesadaran. Misalnya bekerja habis-habisan, sering lupa dan sering tidak konsentrasi.
6. Goncangan Jiwa
Yang namanya putus cinta, patah hati atau kehilangan sesuatu atau seseorang yang sangat dicintai akan menjadi pukulan berat. Oleh karena itu dapat mengalami goncangan jiwa, menjadi cepat marah, mudah menangis, bahkan tendensi untuk bunuh diri. Bila Anda rentan pada hal seperti ini, pastikan Anda dekat dengan seseorang yang bisa menemani sehingga tidak kacau saat sendirian.
7. Degup Jantung Tak Beraturan
Depresi akibat putus cinta dapat menyebabkan masalah pada jantung. Mulai dari degup jantung tidak beraturan hingga sakit jantung serius. Latihan relaksasi dapat membantu mengatasi berbagai masalah yang membuat jantung lebih stabil.
8. Anorexia
Penyakit ini sesungguhnya berhubungan dengan mindset. Biasanya karena tidak percaya diri pada penampilan dan berpikiran bahwa putus karena ada orang lain yang lebih cantik atau lebih tampan ataupun karena menganggap bahwa harta, posisi atau jabatannya hilang akibat perbuatan orang lain.
9. Semakin memudarnya iman di hati
Seringnya diri terhiasi oleh maksiat menyebabkan cahaya iman di hati semakin memudar dan dapat membuat hati menjadi mati.
Penyakit-penyakit di atas akan menimpa para penikmat cinta buta jika ending dari kisah pacarannya tidak sesuai dengan ekspektasinya yang begitu tinggi, atau jika kenikmatan dunia yang sedang digenggamnya tiba-tiba hilang tidak tersisa, karena jiwa mereka kosong, jauh dari cinta kepada Allah SWT. Depresi dengan berbagai rangkaiannya menghampiri dan menggerogoti hati mereka yang gersang.
Jiwa dan hati yang terisi oleh cinta kepada Allah SWT akan menuntun pemilik jiwa dan hati untuk selalu dalam kepatuhan dan ketaatan kepada Allah SWT, cinta kepada Allah SWT juga akan menjaga jiwa dan hati dari perbuatan-perbuatan yang melanggar aturanNya, yang dapat mendatangkan murka Allah SWT, seperti berpacaran atau cinta terhadap kenikmatan dunia lainnya.
"Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur.
Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. Al Hadid, 57:20) ."
Tidak ada cinta yang dilandasi oleh nafsu semata yang akan membawa kepada kebahagiaan, jika tidak menghadirkan cinta kepada Allah sebagai tujuannya. Lalu mengapa banyak wanita dan pria muslim yang berpacaran dan mengumbar kemesraan dengan bebas, lalu menikah dan hidup bahagia ? Kebahagiaan tidak hanya diukur dari sisi kenikmatan dunia, namun kebahagiaan diukur dengan dimensi akhirat yang nilainya melebihi kenikmatan dunia karena keridhaan Allah SWT menyertainya.
*******
Dahsyatnya Cinta Kedua
Sebuah tulisan dari bunda Rochma Yulika, penulis sekaligus penda'wah yang sungguh menyejukkan :
Oase Dakwah Penyejuk Hati Penggugah Jiwa
Menjaga Cinta Agar Selamat
Oleh: Rochma Yulika
Cinta kita cinta yang sehat
Cinta kita cinta yang taat
Cinta kita dilandasi syari’at
Bukan dipenuhi syahwat
Apalagi diiringi maksiat
Menabur cinta agar diri raih bahagia
Lantaran cinta mengajarkan untuk saling mengerti
Saling memahami dan saling memotivasi
Cinta mengajarkan bagaimana hidup untuk berbuat kebaikan
Bukan mengajarkan untuk berbuat keburukan
Cinta mengajarkan bagaimana hidup dalam bingkai kasih sayang
Bukan permusuhan dan perselisihan
Jangan salah memaknai cinta
Agar rasa yang ada hadirkan makna
Agar hidup menjadi bahagia
Senyum ceria makin mempesona
Menjadi pasangan di dunia dan di surga
Indah memang...
Bila rumah tangga berbingkai cinta karena Ilahi
Wajah nampak berseri
Setiap percakapan penuh arti
Bahkan sikap dan perilaku selalu memesona hati
Indah nian bila cinta didasari dengan keimanan
Akhlak terpuji menjadi pakaian
Amalan pun terjaga dalam keseharian
Setiap waktu berlalu dalam kewaspadaan
Bila ada yang salah bukan dihakimi tapi dinasihati
Ada yang kurang santun yang lain pun menuntun
Ajaran manakah dari Islam yang tak menghadirkan kenyamanan bila semua bersandar pada Allah SWT?
Tidak ada istilah pacaran yang sehat, LDR dan lain-lain, hati-hati "VMJ" (Virus Merah Jambu) menyerang. Ingatlah kaidah cinta "lepaskan atau halalkan." Begitulah kaidah cinta seorang muslim yang menghormati kesucian cinta. Dalam hal cinta, Islam tegas dan tidak kenal basa-basi. Jadi katakan tidak untuk pacaran.
Cara yang diajarkan dalam Islam untuk menghindarkan diri terjatuh ke dalam jeratan nafsu yang mengarah ke perbuatan zina misalnya berpacaran, yaitu :
1. Menikah
Dalam sebuah hadits,
"Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kamu telah mampu "ba'ah", maka menikahlah, karena menikah itu dapat menjaga pandangan dan melindungi kemaluan. Jika belum mampu, maka berpuasalah, karena puasa itu adalah perisai baginya" (HR. Bukhari dan Muslim)
Kata Ba'ah sengaja diberi tanda kutip sebab bnyk yg salah faham tentang kata ba'ah ini. Ada 2 definisi ba'ah menurut Syaikh Asy Syaukani :
1. Mampu dlam hal materi,
2. Mampu dlm (maaf) jima'
Jadi bilamana dari kedua hal itu, jika telah mampu maka sebaiknya menikahlah...
Karena itu pria yang shalih dan wanita yang shalihah tidak akan pacaran, lebih baik mendapat predikat "josh" yaitu jomblo sampai halal atau "jofisa" yaitu jomblo fii sabilillah (di jalan Allah) dan berpuasa jika memang belum mampu menikah.
2. Jaga (tundukkan) pandangan
Allah SWT berfirman yang artinya :
"Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya," (QS. An-Nur : 31)
Ayat sebelumnya memerintahkan hal yang sama kepada pria.
3. Jauhi menyentuh / berjabat tangan dengan non mahram
Karena getaran listrik saja tidak dapat berpindah jika tidak ada perantaranya, nah cinta ini diibaratkan listrik, maka konduktor yang paling baik adalah sentuhan atau berjabat tangan
Awas kesetrum ya...
“Andaikata kepala salah seorang dari kalian DITUSUK dengan jarum besi, itu lebih baik baginya daripada menyentuh (baik dengan rabaan atau salaman) wanita yang tidak halal baginya.”_ (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)
Lebih tegas lagi, Rasulullah SAW bersabda,
“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu, kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim)
Jadi awalnya melihat...
Mendengar...
Menyentuh...
Hingga akhirnya zina dengan kemaluan...
Na'udzu billah...
4. Menjauhi dan meninggalkan tabarruj
Simpelnya, tabarruj adalah menampakkan kecantikan hingga membuka aurat di depan non mahram.
Dandan sih sah sah saja tapi jika niatnya malah pengen dilirik, hmm...
“Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.” (HR. An Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad)
5. Jauhi khalwat alias suka berduaan
“Sungguh tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita, kecuali yang ketiga dari keduanya adalah setan.” (HR. Tirmidzi)
Karena setan itu tidak mungkin mengajak ke yang baik, mencari celah untuk menjerumuskan ke lubang maksiat yang hina.
Jika belum baik, mari terus memperbaiki diri. Daripada pacaran menambah ladang dosa bagi diri dan orang tua.
Begitupula dengan cinta terhadap kenikmatan dunia yang lain, jika telah terjatuh ke dalam jebakannya maka kehidupan kita akan dikendalikannya, dapat memalingkan hati dan jiwa dari ketaatan kepada Allah SWT, dapat mengikis rasa cinta kepada Allah SWT. Maka berhati-hatilah akan kenikmatan dunia yang dapat mengalihkan diri dari ketaatan dan rasa cinta kepada Allah SWT agar tidak terjatuh dalam kehancuran.
Tingkatkan kedekatan kepada Allah SWT dengan senantiasa berbuat kebaikan, menambah ketaatan kepadaNya dan berusaha maksimal menjauhi segala laranganNya.
Jadi, terus perbaharui iman agar cinta kepada Allah SWT senantiasa tumbuh karena lemah iman maka lemah pula cinta terhadap Allah SWT.
Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW bersabda :
“Engkau mempunyai amal yang bersemangat, dan setiap semangat mempunyai kelemahan. Barangsiapa yang kelemahannya tertuju pada sunnahku, maka dia telah beruntung. Dan, siapa yang kelemahannya tertuju kepada selain itu, maka dia telah binasa.” (HR.Ahmad)
Kondisi iman kita saling tegak lurus dengan keadaan hati kita. Sesuai dengan namanya, hati dalam bahasa Arab qalban selalu berubah-ubah (at taqallub) dengan cepat.
Rasulullah SAW bersabda,
“Dinamakan hati karena perubahannya. Sesungguhnya hati itu ialah laksana bulu yang menempel di pangkal pohon yang diubah oleh hembusan angin secara terbalik.” (Ahmad dalam Shahihul Jami’ no. 2365).
Berikut ini sepuluh nasihat Ibnul Qayyim rahimahullah untuk menggapai kesabaran diri agar tidak terjerumus dalam perbuatan maksiat yang dapat mendatangkan murka Allah :
Pertama, hendaknya hamba menyadari betapa buruk, hina dan rendah perbuatan maksiat. Dan hendaknya memahami bahwa Allah SWT mengharamkannya serta melarangnya dalam rangka menjaga hamba dari terjerumus dalam perkara-perkara yang keji dan rendah sebagaimana penjagaan seorang ayah yang sangat sayang kepada anaknya demi menjaga anaknya agar tidak terkena sesuatu yang membahayakannya.
Kedua, merasa malu kepada Allah SWT..Karena sesungguhnya apabila seorang hamba menyadari pandangan Allah SWT yang selalu mengawasi dirinya dan menyadari betapa tinggi kedudukan Allah SWT. Dan apabila dia menyadari bahwa perbuatannya dilihat dan didengar Allah SWT tentu saja dia akan merasa malu apabila dia melakukan hal-hal yang dapat membuat murka Rabbnya… Rasa malu itu akan menyebabkan terbukanya mata hati yang akan membuat Anda bisa melihat seolah-olah Anda sedang berada di hadapan Allah SWT.
Ketiga, senantiasa menjaga nikmat Allah SWT yang dilimpahkan kepadamu dan mengingat-ingat perbuatan baikNya.
Apabila engkau berlimpah nikmat maka jagalah, karena maksiat akan membuat nikmat hilang dan lenyap. Barangsiapa yang tidak mau bersyukur dengan nikmat yang diberikan Allah SWT kepadanya maka dia akan disiksa dengan nikmat itu sendiri.
Keempat, senantiasa merasa takut kepada Allah SWT dan khawatir tertimpa hukumanNya.
Kelima, mencintai Allah SWT… karena seorang kekasih tentu akan menaati sosok yang dikasihinya. Sesungguhnya maksiat itu muncul diakibatkan oleh lemahnya rasa cinta.
Keenam, menjaga kemuliaan dan kesucian diri serta memelihara kehormatan dan kebaikannya… Sebab perkara-perkara inilah yang akan bisa membuat diri merasa mulia dan rela meninggalkan berbagai perbuatan maksiat.
Ketujuh, memiliki kekuatan ilmu tentang betapa buruknya dampak perbuatan maksiat serta jeleknya akibat yang ditimbulkannya, juga bahaya yang timbul sesudahnya yaitu berupa muramnya wajah, kegelapan hati, sempitnya hati dan gundah gulana yang menyelimuti diri karena dosa-dosa itu akan membuat hati menjadi mati.
Kedelapan, memupus buaian angan-angan yang tidak berguna. Hendaknya setiap insan menyadari bahwa dia tidak akan tinggal selamanya di dunia, mestinya dia sadar kalau dirinya hanya tamu yang singgah di sana, akan segera berpindah dari dunia sehingga tidak ada sesuatu pun yang akan mendorong dirinya untuk menambah tanggungan dosanya, karena dosa-dosa itu jelas akan membahayakan dirinya dan sama sekali tidak akan memberikan manfaat apa-apa.
Kesembilan, hendaknya menjauhi sikap berlebihan dalam hal makan, minum dan berpakaian. Karena sesungguhnya besarnya dorongan untuk berbuat maksiat hanyalah muncul dari akibat berlebihan dalam perkara-perkara tadi. Dan di antara sebab terbesar yang menimbulkan bahaya bagi diri seorang hamba adalah waktu senggang dan lapang yang dia miliki karena jiwa manusia tidak akan pernah mau duduk diam tanpa kegiatan, apabila dia tidak disibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat maka tentulah dia akan disibukkan dengan hal-hal yang berbahaya.
Kesepuluh, sebab terakhir adalah sebab yang merangkum sebab-sebab di atas… yaitu kekokohan pohon keimanan yang tertanam kuat di dalam hati. Maka kesabaran hamba untuk menahan diri dari perbuatan maksiat itu sangat tergantung dengan kekuatan imannya. Setiap kali imannya kokoh maka kesabarannya pun akan kuat dan apabila imannya melemah maka sabarnya pun melemah…
Dan barang siapa yang menyangka bahwa dia akan sanggup meninggalkan berbagai macam penyimpangan dan perbuatan maksiat tanpa dibekali keimanan yang kokoh maka sungguh dia telah keliru.
Allah memerintahkan Rasulullah SAW untuk mengambil satu syariat dan manhaj:
“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (Al-Jatsiyah: 18)
Sayyid Quthub berkata dalam tafsirnya, Fii Zhilaalil Qur'an:
“Pilihan itu hanya ada dua, syariat Allah SWT atau mengikuti keinginan orang-orang jahil. Tidak ada pilihan ketiga, jalan tengah antara syariat yang lurus dan keinginan hawa nafsu yang berubah. Seseorang yang meninggalkan syariat Allah berarti telah berhukum kepada keinginan nafsunya. Segala sesuatu selain syariat Allah adalah keinginan hawa nafsu yang disukai oleh orang yang jahil.”
Syariat hanyalah satu, yaitu syariat Allah SWT dan selain itu hanyalah keinginan hawa nafsu yang bersumber dari kejahilan.
Perintah Allah kepada orang-orang beriman :
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (Al-Baqarah: 208)
Dengan demikian, seorang muslim perlu mengetahui dasar sikapnya, tidak plin-plan, bimbang dan ragu-ragu dalam memilih satu jalan dari berbagai jalan dan bermacam orientasi hidup. Tidak ada manhaj alternatif bagi orang beriman atau pilihan untuk meramu manhaj Islam dengan manhaj lain. Tidak akan ada. Barang siapa yang tidak masuk Islam secara keseluruhan, berarti ia tidak menyerahkan dirinya secara ikhlas kepada pimpinan Allah dan syariatnya. Selain itu ia juga tidak membebaskan diri dari tashawwur, konsep, manhaj dan syariat yang lain. Maka sesungguhnya ia berada di jalan setan dan mengikuti jejak langkah setan.
Namun bagaimana jika terlanjur terjerumus ke dalam jeratan setan ? Manusia bukan ciptaan yang sempurna, banyak keterbatasan dan kelemahan yang ada pada diri manusia. Kelemahan manusia ini dapat mengantarkannya ke hal-hal yang negatif dan tidak bermanfaat bahkan berbahaya kepada dirinya dan orang lain.
Seorang muslim, akan menjadi sasaran empuk godaan setan jika landasan imannya tidak kokoh atau bahkan rapuh, setan dengan mudah menutup mata hatinya dengan segala hal yang indah namun menyesatkan, menciptakan fatamorgana yang akan berakhir dengan kekecewaan dan penyesalan.
Jika terlanjur terseret ke dalam jebakan setan, terjerumus ke dalam kubangan maksiat dan belenggu hawa nafsu seperti yang dibahas pada bab sebelumnya, terjerumus ke dalam godaan cinta buta terhadap sesama manusia dan cinta terhadap kesenangan duniawi, seorang muslim tidak serta merta akan berada dalam lingkaran dosa itu selamanya jika bersungguh-sungguh ingin meninggalkannya meski termasuk ke dalam golongan dosa besar.
Hidayah adalah hak prerogatif Allah SWT, tidak ada seorang hamba yang dapat mengatur Allah SWT untuk memberikan hidayah kepada orang yang dikehendakinya, sebuah kisah yang terkait dengan hidayah berikut ini semoga dapat menjadi pelajaran dan pengingat bagi kita semua.
HAFAlquran 30 JUZ DAN HADlTS TAK MENJAMIN KITA MASUK SURGA
Kisah nyata ini di tuturkan Habib Quraisy bin Qosim Baharun, Cirebon, dr kisah perjalanannya th 1996. Kala itu pesawat melintasi daratan Afrika. Diantara penumpangnya Habib Quraisy dan ibu Tua sekitar 65-70 tahun berpenutup jilbab di sebelahnya. “Dimana asal Anda?” Tanyanya. Tahu Habib Quraisy orang Indonesia, dia mengajaknya berbahasa Indonesia dan amat fasih pula. Ibu Tua itu tersenyum bijak sambil berkata “Saya ‘Alhamdulillah’ menguasai sebelas bahasa dan 20 bahasa daerah”.
Ibu Tua mulai mengupas pembahasan Al Qur’an dg indah dan mahir.
Habib pun penasaran atas kehebatannya menjelaskan Al Qur’an, “Apakah Ibunda hafal Alquran?”
Beliau jawab “Ya, saya telah menghafal Alquran dan saya rasa tidak cukup hanya menghafal Alquran sehingga saya berusaha menghapal Tafsir Jalalain dan saya pun hafal”.
Tidak sampai disitu saja, ibu tua itu melanjutkan bicaranya “Namun Alquran harus bergandengan dengan hadist. Sehingga saya kemudian berupaya lagi menghafal hadist tentang hukum sehingga saya hafal kitab hadist Bulughul Marom di luar kepala”.
“Lantas saya masih belum merasa cukup, karena di dalam Islam bukan hanya ada halal dan haram tapi harus ada fadhailul amal, maka saya pilih kitab Riyadhus Sholihin untuk saya hafal dan saya hafal”. Kata Ibu itu menuturkan pendalamannya tentang Islam kepada Habib Quraisy.
Ibu itu kembali bertutur “Di sisi agama ada namanya tasawuf, maka saya cenderung pada tasawuf sehingga saya pilih kitab Ihya Ulumuddin dan sampai saat ini saya sudah 50 kali mengkhatamkan membacanya.
Saking seringnya saya baca Ihya Ulumuddin sampai-sampai Bab Ajaibul Qulub saya hafal di luar kepala”.
Habib Quraisy terperangah melihat kehebatan dan luarbiasanya Ibu itu. Namun karena tidak percaya begitu saja, Habib pun akhirnya mencoba test kebenaran perkataannya. Apakah benar Ia telah hafal Al Qur’an? Apakah benar Ia menguasai Tafsir Jalalain ttg asbabun-nuzul dan qaul Ibnu Abbas? Setelah melalui beberapa pertanyaan. Ternyata benar Ibu itu hafal Qur’an bahkan mampu menjawab tafsirnya dengan mahir dan piawai.
Ketika Habib mengangkat permasalahan ihya mawat yang ada dalam kitab Bulughul Maram Ibu Tua itu pun menjabarkannya cukup jelas.
Ketika Habib membahas tentang hadist Riyadhus Sholihin maka Ibu Tua itu menyebutkan sesuai apa yang disebutkan dalam kitab Dalailul Falihin sebagai syarah kitab hadist tsb.
Dan lagi Ia menjelaskan masalah psikologi hati berbasis kitab Ihya Ulumuddin pada pasal ajaibul qulub. Kembali Habib dibuat heran akan kehebatan Ibu Tua itu dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Pesawat akan mendarat di Airport. Ibu itu mengambil tasnya yang ada di kabin. Kerana sudah merasa kenal, Habib membantu menurunkan 3 tasnya ke lantai pesawat. Subhanallah… Saat ibu itu menunduk untuk mengambil tasnya ternyata keluar dari balik jilbabnya seutas kalung salib.
Seperti petir menyambar di siang bolong, Habib Quraisy menunduk lemah. Ibu itu tersenyum, “Akan kujelaskan padamu nanti di hotel.”
Habib akan transit selama sehari semalam, pun Ibu Tua itu. Maka di ruang tunggu dia tunjukkan nomor kamarnya kepada Habib dan berjanji bertemu di ruang lobbi restaurant.
Keduanya akhirnya bertemu. Kpada Habib Qurasy ia mengatakan, “Saya bukan orang Kristen, mengapa saya keluar dari Kristen ?… karena saya menganggap Kristen itu hanya dongeng belaka. Dan kalung ini bukan berarti saya Kristen, tapi kalung ini pemberian almarhumah ibu saya”.
Ia mengatakan bahwa Ia telah mempelajari Kristen, Hindu juga Islam. Ia mengungkap ketertarikannya mengenai keagungan yang ada di balik wahyu Allah SWT dan hadits Nabi Muhammad SAW.
“Ibu apa agamanya sekarang ?” Habib bertanya.
Dia katakan “Saya tidak beragama”
“Andai Ibu masuk Islam, begitu baca syahadat, ibu akan langsung dapat titel ulama”. Karena demikian luas ilmu yang dimiliki kata Habib.
Ia menjawab,
“MUNGKIN KARENA SAYA BELUM MENDAPAT HIDAYAH DARI ALLAH”
Habib Quraisy meneteskan airmata bersyukur kepada Allah SWT, bagaimana orang seperti dia yang sudah hafal Al Qur’an dan lain sebagainya belum Allah SWT izinkan untuk beriman kepadaNya.
Sementara kita tanpa usaha apapun, telah dipilih oleh Allah SWT untuk menjadi seorang muslim. Demikianlah kisah ajaib ini. Semoga dapat diambil iktibar betapa bersyukur kita dianugrahi iman dan semakin bertambah kuat sampai ajal menjemput, sehingga kita termasuk orang yang husnul khotimah.
Ibu tua itu bernama ANN MARIE SCHIMMEL, ahli terkemuka dalam literatur Islam dan mistisisme (tasawuf), berkebangsaan Jerman, sebagai professor mengajar di 3 Universitas terkenal di 3 negara berbeda, dikenal memiliki ingatan fotografis. Wafat tahun 2003 di usia 80 thn, entah bagaimana tentang keimanannya di akhir hidupnya. Ada yang tahu??
SEORANG HAMBA MASUK SURGA KARENA RAHMATNYA
Tidaklah cukup hafal Alquran dan hadits (https://g.co/kgs/9KmwUS).
Namun Allah SWT benar-benar Maha Pengampun dan Maha Penyayang, termasuk kepada orang-orang yang selalu bergelut dengan maksiat, hidayah dari Allah SWT banyak menghampiri para pelaku maksiat dan mengantarkan mereka menuju pribadi yang lebih baik, muslim yang taat.
Betapa dahsyatnya cinta Allah SWT, mampu menyentuh hati orang-orang yang selama ini mengeras akibat tertempa oleh maksiat. Cinta Allah SWT mampu mengalahkan rasa cinta manusia kepada kesenangan yang berorientasi duniawi, cinta pertama yang sesungguhnya hanya sekejap lalu sirna.
Jika orang-orang yang mendapat isyarat cinta dari Allah SWT ini ingin semakin dicintai oleh Allah SWT sehingga hatinya pun terisi oleh rasa cinta kepada Allah SWT dan ingin benar-benar melepaskan diri dari bayang-bayang cinta pertamanya yaitu cinta kepada kesenangan dunia maka harus menjalani pengobatan hati.
Ada 2 bentuk pengobatan hati yang harus dijalani jika seorang muslim ingin lepas dari belenggu maksiat dan dosa akibat dari perbuatan-perbuatan maksiat seperti yang dikemukakan di atas yaitu :
Bersegera bertaubat (memohon ampunan Allah SWT) dan melaksanakan segala rangkaiannya.
Hijrah
Berikut ini penjabaran dari kedua kelompok pengobatan di atas :
1. Bersegera bertaubat (memohon ampunan Allah SWT) dan melaksanakan segala rangkaiannya.
Firman Allah SWT yang artinya :
“Katakanlah : “Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepadaNya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar : 53-54).
Ayat diatas menjelaskan Allah SWT akan mengampuni dosa-dosa semua hambaNya. Allah SWT Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, hanya Allah SWT tempat berserah diri, memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukan baik yang disengaja maupun tidak disengaja, sebesar debu hingga dosa seluas lautan.
Setiap manusia berkewajiban untuk bertaubat kepada Allah SWT. Jangan setengah-setengah atau main-main dalam bertaubat, lakukanlah dengan kesungguhan serta keikhlasan hati. Berikut rangkaian taubat yang harus dijalani :
1. Niat bertaubat dengan sepenuh hati, yang dimaksud di sini adalah taubat nasuha atau taubat yang sungguh-sungguh, bukan taubat beberapa saat lalu mengulangi berbuat dosa.
Firman Allah SWT yang artinya :
“Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah SWT menerima taubat dari hamba-hamba-Nya?” (QS. At Taubah: 104).
Sudah kewajiban untuk bertaubat memohon ampunan Allah SWT dengan taubat nasuha jika berbuat dosa. Dari arti ayat di atas bahwa Allah SWT menerima taubat hamba-hambaNya. Allah SWT akan membukakan pintu maaf bagi setiap hamba yang bersungguh-sungguh memohon ampun kepadaNya.
2. Menyesal
Firman Allah SWT yang artinya :
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah SWT, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nisa’: 110).
Selain memohon ampun dengan penuh kesungguhan, seorang hamba yang ingin dosanya terhapus dan dimaafkan oleh Allah SWT, memiliki rasa penyesalan dalam hati atas perbuatan maksiat tersebut.
3. Tidak berbuat maksiat lagi
Firman Allah SWT yang artinya :
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.” (QS. An Nisa’: 145-146).
Sudah kewajiban bagi setiap orang yang bersungguh-sungguh bertaubat kepada Allah SWT tidak lagi mengulangi perbuatan maksiat yang pernah dilakukannya dan senantiasa selalu membentengi diri dari perbuatan-perbuatan maksiat dengan memohon perlindungan dari Allah SWT.
Allah SWT sangat menyayangi hamba-hambaNya dan menerima taubat hambaNya yang bersungguh-sungguh. Bersegeralah bertaubat, jangan menunda-nunda untuk bertaubat dan jangan pernah berputus asa.
Firman Allah SWT yang artinya :
“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepadaNya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54).
Berdasarkan firman Allah SWT dalam surah An Nisaa’ ayat 48 dan 116:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya…."
Berkaitan dengan penjelasan ayat di atas, Syaikh Abdur-Rahman bin Nashir as-Sa’di dalam tafsirnya (1/426) berkata: “(Dalam ayat ini) Allah mengabarkan kepada kita, orang yang berbuat syirik kepadaNya (menyekutukanNya dengan sesuatu yang lain dari makhluknya dalam beribadah) tidak akan diampuni oleh-Nya (Maksudnya, selama pelaku perbuatan syirik itu belum atau tidak bertaubat hingga ia meninggal dunia. Adapun jika ia bertaubat dari syirik sebelum meninggal dunia, maka Allah pun akan mengampuni dosanya. Lihat Tafsir as-Sa’di, 1/426).
Dan Allah akan mengampuni dosa-dosa lainnya selain syirik, baik itu dosa besar ataupun dosa kecil. Itupun bila Allah SWT menghendakinya”(Tafsir as-Sa’di, 1/425-426).
Penjelasan di atas pun berlaku jika si pelaku dosa maksiat tersebut tidak istihlal (yakni tidak menganggap perbuatan yang haram tersebut boleh atau halal dilakukan). Karena orang yang melakukan perbuatan haram (maksiat) dengan berkeyakinan bahwa perbuatan tersebut merupakan perbuatan yang boleh dan halal dilakukan maka orang ini kafir berdasarkan kesepakatan para ulama.
Allah SWT sangat gembira dengan taubat hamba-Nya, bahkan kegembiraan Allah SWT terhadap taubat seorang hambaNya melebihi kegembiraan orang yang menjumpai barang-barangnya kembali yang telah hilang lenyap darinya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
"Sungguh Allah lebih bergembira dengan taubat salah seorang dari kalian, melebihi kegembiraan salah seorang dari kalian terhadap barang-barangnya yang hilang ketika ia mendapatkannya kembali." (HR Muslim, 4/2102 no. 2675, dan lain-lain).
Maka bersegeralah bertaubat jika telah berbuat maksiat, rasakan dahsyatnya cinta Allah SWT jika telah melewati fase ini dengan kesungguhan dan keikhlasan, setelahnya akan tumbuh rasa cinta kepada Allah SWT yang jauh lebih baik daripada cinta kepada kesenangan dunia karena cinta kepada Allah SWT akan memberikan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar